Tuesday, 17 February 2015

Visiting Kenekes Tribe (baca: Baduy) for a while

Terlalu lama di hingar bingar dunia yang lapar, terkadang membuat lupa apa makna hidup yang bersahaja. Harmoni alam ini jawabannya, menyatu dengannya seolah membuat aku terpekur lama, "hidupkah aku selama ini?" _anonim_

ahaaaaa, terlambat sudah menceritakan perjalanan hampir 8 bulan yang lalu. Tapi toh tak ada salahnya yes.. :)
Okay dokay, kali ini aku mau sharing tentang perjalanan singkat ke tanah suku Kenekes yang lebih terkenal disebut suku Baduy.
Sudah lama sebenarnya rencana ke suku ini, sejak pulang dari Karimunjawa akhir 2012 silam. Tapi karena satu dan lain hal tertunda hingga sampailah pada sekitar bulan Mei 2014. Setelah KI Jakarta 3, aku dan salah seorang kawan, Day, merencanakan untuk Open trip ke Baduy di tengah bulan Juni. Tidak seperti istilah Open Trip lain yang sifatnya komersial, open trip kami ini tidak bersifat komersial, tapi memang kami gunakan untuk mencari teman jalan dengan cost sharing :)

nah, sebelum yang belum tahu tanya tentang suku Kenekes ini, berikut informasi singkat mengenai suku ini via Wikipedia:

- Orang Kanekes atau orang Baduy/Badui adalah suatu kelompok masyarakat adat sub-etnis Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Populasi mereka sekitar 5.000 hingga 8.000 orang, dan mereka merupakan salah satu suku yang menerapkan isolasi dari dunia luar. Selain itu mereka juga memiliki keyakinan tabu untuk difoto, khususnya penduduk wilayah Baduy dalam.
Sebutan "Baduy" merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau "orang Kanekes" sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo (Garna, 1993) - 

Nah, sudah nyambung? semoga.. sedikit tergelitik ketika salah seorang teman bertanya, "Lo ngapain ngedatengin suku-suku begitu?", hmmm jawabannya simpel saja, "karena gw gak mau lihat kehidupan yang begitu-begitu saja man!" hohoho, nangkep? (lagi-lagi) semoga :)

Setelah woro woro sana sini, akhirnya dapatlah sekumpulan manusia sejumlah 8 orang (halah) yang siap untuk berangkat ke suku Kenekes. Itinerary singkat dibuat dengan tujuan perjalanan kami terjadwal. Day dan Imron yang kebetulan sudah berpengalaman kesana akan menjadi "Guide" buat kami. Oiya, 2 diantara 8 orang Team ekspedisi kali ini adalah mbak Metha dan mbak endah yang tak lain adalah 2 relawan inspirator di KI Jakarta 3 dimana aku sebagai fasilnya (baca: fasil sesat hihaaa).

Sesuai kesepakatan, kami berangkat pada 14 Jun 2014 dengan MP di stasiun Kereta Tanah Abang. Kami memilih kereta Rangkasjaya yang akan membawa kami langsung ke stasiun Rangkasbitung. Tarif dasar kereta ini relatif murah, Rp 15000,- namun perlu dicatat bahwa pembeliannya harus on the spot alias gak bisa beli secara online.
Setelah team lengkap (kecuali Day dan Imron yang tinggal di Serang), kami siap menunggu kereta yang tak lama kemudian datang. Sekitar pukul 08.00, kereta kami meluncur menuju Rangkasbitung dan dibutuhkan ~ 3 jam perjalanan dengan pemandangan khas Indonesia bagian pedesaan, membuatku tercenung, betapa kaya Indonesia (terlepas dari korupsi yang juga membuat terpesona -.-'). Di perjalanan pula, kami bertemu dengan seorang karyawan PT KAI yang banyak menceritakan pengalamannya selama bekerja di KAI. Si Bapak, yang asli Rangkasbitung, bercerita bahwa PT KAI kini telah menjelma menjadi sebuah BUMN yang maju pesat di bawah kepemimpinan Ignanius Jonan (kala itu). Jonan dikenal tegas dan tak segan segan memecat karyawan yang melakukan kesalahan. Dari sisi kesejahteraan, si Bapak bercerita, bahwa telah banyak peningkatan. Semoga saja, Jonan mampu menjadi menteri yang baik di Dept. Perhubungan aamiin....

Sesampainya di stasiun Rangkasbitung, kami mengucapkan salam "sampai juga lagi" dengan si Bapak. Kami pun mencari transportasi umum (angkot) untuk menuju ke terminal. Biaya angkot dari stasiun sampai terminal sekitar 50ribu untuk 8 orang. Dari terminal, kami naik kendaraan semacam elf yang hanya sehari sekali mengangkut penumpang ke Desa Ciboeger (desa terakhir sebelum kampong suku Baduy). Biaya elf ini 20ribu/ orang. Sesampai di Ciboleger, kami pun mengisi perut sebelum melanjutkan perjalanan ke kampong Baduy. Selain itu, karena kami akan menginap di rumah warga Baduy, kami menyiapkan bekal makanan mentah untuk makan selama disana. Banyak warung kelontong yang tersedia sepanjang jalan menuju kampong Baduy, jadi jangan khawatir :).
Sebagai pelengkap, kami pun membeli kain khas suku Baduy. Harga yang ditawarkan cukup beragam, tergantung jenis kain dan lebarnya. Kami memilih kain  dengan harga 25ribu.
Di saat makan dan persiapan perbekalan, kami dijemput oleh Pak Aam. Beliau adalah warga suku Baduy Luar yang akan menjadi pemandu kami.


Setelah perbekalan lengkap, kami pun memulai perjalanan menuju ke kampung suku Baduy. Sebelum memasuki Kampung , kita diwajibkan lapor (kepada semacam penjaga) dan disini kita bisa memberikan sumbangan sukarela. Perijinan selesai, kami pun memulai perjalanan yang "menanjak", ya menanjak, karena jalanan seperti bersudut, vertical :D. Setelah berjalan sekitar 20 menit, beberapa anggota tim mulai menunjukkan gejala kelelahan, pucat dan terengah engah. hehhehe :D. Langsung merasa, bahwa informasi tentang "medan" tempat ini sangat kurang. Untuk yang biasa olahraga , mungkin tak akan menjadi masalah. Namun, untuk yang jarang olahraga kardio, mohon untuk olahraga rutin setidaknya selama seminggu sebelum tracking di kampung Baduy :).


Selama perjalanan, kami berpapasan dengan beberapa orang Baduy yang akan kembali ke kampungnya. Luar biasa.... tanpa alas kaki, membawa beban, dan sepertinya tak ada lelahnya. Mungkin inilah yang disebut "anugerah alam".
Karena kendala stamina beberapa anggota team dan kondisi yang makin gelap, kami memutuskan untuk menginap di rumah Pak Aam (Baduy Luar). Awalnya kami berencana untuk bermalam di Baduy Dalam, agar bisa ketemu dengan tetua adat.

Sesampai rumah Pak Aam, kami pun bebersih dan menyiapkan tempat untuk merebahkan badan. Pak Aam tinggal bersama istri dan 2 anaknya yang tidak bersekolah. Inilah budaya suku Kenekes yang sampai sekarang masih sulit untuk diubah. Setelah makan dan ngobrol, mb Metha dkk, pun memutuskan untuk istirahat. Sementara aku, Dayat dan Imron meneruskan perbincangan dengan Pak Aam. Bulan "penuh" cantik pun menemani obrolan kami sampai larut dini hari. Inilah salah satu yang membuat aku makin terpaku dengan kondisi alam di Baduy, Bulan seolah menerangi seluruh kampong di perbukitan yang sama sekali belum tersentuh listrik. Subhanallah...
Dan Pak Aam pun banyak bercerita  tentang kehidupan suku Baduy baik dalam maupun luar. Dari kebiasaan suku Baduy sampai merembet ke masalah politik, dari cerita tentang perubahan kampung, kunjungan Ratu Atut (yang waktu itu sedang hot-hotnya dibicarakan) sampai harapan pak Aam agar anaknya bisa bersekolah. Cerita cerita itu terpaksa dihentikan ketika salah satu dari kami melihat jam dan ternyata sudah hampir menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Kami harus menyiapkan tenaga untuk esok hari, perjalanan sebenarnya ke kampung Baduy Dalam.

Pagi hari, setelah bebersih, sarapan dan menyiapkan bekal, kami mulai perjalanan menuju kampung Baduy Dalam.  Kampung Baduy ini cukup tersebar, seperti saat perjalanan, beberapa kali kami menemukan kampung kampung suku ini.

wanita suku baduy luar sedang menenun kain


Seperti menemukan penjual es di tengah terik siang, kami berteriak kegirangan ketika  kami menemukan sungai yang jernih dan mengalir cukup deras. Tak menunggu lama, kami pun menceburkan diri dan subhanallah... segar cint! Wilayah ini merupakan kampung terakhir suku Baduy Luar sebelum menuju daerah Kampung Baduy Dalam yang jaraknya... (jangan dibayangkan hehehhe).
 
 
 


Setelah puas mandi dan bermain air, kami melanjutkan perjalanan. Sungguh perjalanan yang luar biasa, mendaki gunung lewati lembah! Amazing! Walau beberapa anggota tim ekspedisi kali ini ada yang terlihat kelelahan, namun kami saling menyemangati, demi mencapai kampung Baduy Dalam. Namun, karena kelelahan fisik yang tidak bisa lagi ditoleransi , salah satu anggota tim akhirnya menyerah dan tidak meneruskan perjalanan. Dengan ditemani Imron, mbak kita yang satu itu kembali ke rumah Pak Aam. So Gaes, Please siapin fisik jika bener-bener mau tracking ke kampung Baduy ini :)
Sepanjang perjalanan pun, kami berkali kali berpapasan dengan warga suku Baduy luar (berpakaian Hitam) dan Baduy Dalam (berpakaian putih). Sungguh fisik tempaan alam yang luar biasa, tanpa alas kaki, mereka berjalan naik turun bukit seperti tak ada beban. Bahkan, sekali dua kali, melihat wanita suku baduy yang menggendong bayi tetap berjalan biasa. Kami? ahahhaa luar biasa terengah engah dan beberapa kali berhenti untuk istirahat hehehe :D

Perjalanan sekitar 3 jam pun berbuah manis, kami sampai di Kampung terluar Baduy Dalam (tetiba lupa namanya). Sebenarnya ada 3 kampung di baduy Dalam, namun karena keterbatasan waktu, kami hanya berkunjung di 1 kampung. Kampung ini tidak terlalu besar, namun cukup padat penduduknya. Anak anak berlari dengan baju adat mereka, ibu ibu muda hilir mudik membawa kayu ataupun menggendong bayi. Menurut cerita, kebanyakan perempuan baduy sudah menikah di umur belia, 15 tahun! uwoooww. Tapi maklum, tak adanya pendidikan dan kehidupan yang hampir "stagnant" mungkin berperan dalam pernikahan dini ini.
Kami pun berjalan mengeksplorasi kehidupan masyarakat di Kampung ini. Melihat ibu ibu mencuci baju di kali tanpa deterjen, melihat anak dan bapaknya mencari ikan, sampai memperhatikan cara memasak mereka, membuat kami berdecak kagum. Tanpa kemampuan membaca, tanpa listrik dan tanpa sinyal telepon seluler, kehidupan mereka berjalan sedemikian rupa. Sungguh, lagi lagi aku hanya bisa terkesima :)

Perlu diingat, di kampung ini ada suatu wilayah (rumah dan pekarangan) yang tidak boleh kita datangi. Konon, katanya tempat tersebut adalah tempat tinggal tetua adat yang tidak sembarang orang bisa menemuinya. Pekarangannya pun cukup berbeda dengan rumah lain, lebih rapi dan hijau oleh rumput yang entah siapa yang menanam. Di kampung ini, tidak semua bisa berbahasa Indonesia (ya iya :D), dan kebanyakan mereka berbahasa sunda campur bahasa Baduy. Konon pula, ketika kita berkenalan dengan mereka, memberikan alamat rumah, suatu keniscayaan, suatu hari mereka akan datang mengunjungi kita. Catat: mereka akan datang berjalan kaki dan tanpa GPS! Subhanallah (lagi-lagi).

Setelah sekitar 1 jam kami berinteraksi dengan warga kampung, kami pun memutuskan untuk kembali ke Kampung Baduy Luar (Rumah Pak Aam). Perjalanan pulang yang lebih ringan, karena kami telah sampai di tujuan kami (walau hanya 1 kampung). Setelah sampai di rumah Pak Aam, kami pun istirahat, makan dan berkemas untuk kembali ke Jakarta.
Menginap di Rumah Pak Aam, tidak ada tariffnya, namun, monggo sukarela untuk memberikan sedikit rejeki kita ke Bapak dan istrinya yang telah memberikan tumpangan tempat istirahat dan memasak makanan untuk kita :). Sebelum pamitan, kami pun bertukar no. HP dengan pak Aam. Jangan salah, walau tidak bisa membaca, pak Aam punya telepon seluler yang bisa kita hubungi jika si Bapak sedang ada di Ciboeleger (maklum di kampungnya tak ada sinyal hehehe).

Jam menunjukkan pukul 15.00 lebih sekian saat kami sampai di Ciboleger. Itu artinya, sudah tidak ada transportasi yang akan membawa kami ke Rangkasbitung (jadwal elf hanya sampai pukul 14.00). Akhirnya setelah tawar menawar, kami menyewa mobil semacam angkot untuk menuju ke Rangkasbitung. Sewa mobil ini cukup lumayan mahal: 300ribu/ 7 orang (7 karena Dayat pulang duluan). Namun mau tak mau kami sanggupi, demi bisa pulang. Sesampainya di Stasiun Rangkasbitung, kami bergegas ke loket untuk membeli tiket kereta (kereta apapun yang ada). Kami pun mendapat tiket untuk kereta tujuan Merak - Muara Angke dengan harga 5ribu/ tiket. Murah? iya, siap-siap berdiri dan berdesak-desakan? harus :D Kereta ini berangkat sekitar pukul 17.00 (lupa tepatnya) dan berhenti di setiap stasiun.
Walau demikian, di perjalanan pulang kami semua terlihat puas (kecuali mb Endah karena belum sampai di Baduy Dalam hehehe). Aku puas karena sudah bisa melihat sisi lain kehidupan, bahagia karena bersyukur dilahirkan di tengah masyarakat yang terus berkembang.
Kami pun berpisah satu persatu di stasiun tujuan masing-masing. Dan aku pun kembali pulang, bertemu partner hidup yang (mohon maaf) harus ditinggal sebentar untuk perjalanan ini karena saat itu sang partner sedang sibuk kuliah :)








-See you in the next trip-

Salam melangkah,
Nurul