Nah, let me continue the story about this, yes this, Ijen Crater...
Setelah berpamitan dan mendapatkan info tentang transportasi yang bisa kami pilih (hanya satu ini, jadi ya gak bisa milih sebenernya :D), kami pun segera menunggu bis kecil yang dimaksud. Bis ini akan membawa kami menuju Cungking, sebuah tempat yang saat itu tak terbayangkan di benakku. Bis kecil dengan banyak peminat karena memang jarang dan mungkin satu-satunya yang menuju Cungking tanpa berhenti di Pelabuhan Ketapang (pelabuhan penghubung Banyuwangi dan Bali). Tarif bis dari Gerbang Baluran sampai di Cungking ini relatif murah yaitu Rp 10.000/ orang,
Walaupun sesak, namun bis ini lumayan nyaman apalagi Bapak sopir bus cukup sabar menanggapi pertanyaan-pertanyaanku seputar wisata alam di Banyuwangi (thanks Pak, gara-gara info Bapak, aku jadi mupeng ingin ke red Island, haha -next trip!)
Rincian biaya trip ala nurul bisa dihitung sendiri ya ;)
see you on the next a little Adventure!
Setelah berpamitan dan mendapatkan info tentang transportasi yang bisa kami pilih (hanya satu ini, jadi ya gak bisa milih sebenernya :D), kami pun segera menunggu bis kecil yang dimaksud. Bis ini akan membawa kami menuju Cungking, sebuah tempat yang saat itu tak terbayangkan di benakku. Bis kecil dengan banyak peminat karena memang jarang dan mungkin satu-satunya yang menuju Cungking tanpa berhenti di Pelabuhan Ketapang (pelabuhan penghubung Banyuwangi dan Bali). Tarif bis dari Gerbang Baluran sampai di Cungking ini relatif murah yaitu Rp 10.000/ orang,
Walaupun sesak, namun bis ini lumayan nyaman apalagi Bapak sopir bus cukup sabar menanggapi pertanyaan-pertanyaanku seputar wisata alam di Banyuwangi (thanks Pak, gara-gara info Bapak, aku jadi mupeng ingin ke red Island, haha -next trip!)
Sampai di Cungking yang tak lain adalah sebuah perempatan
jalan (ow ow) kami pun menghubungi nomor Mas Vian, teman mas Ferdy yang
memiliki jasa penyewaan Jeep ke kawah Ijen. Sembari beristirahat dan menunggu
Mas Vian, kami memutuskan untuk makan siang di warung sederhana yang menyajikan
bakso dan nasi rames plus jeruk hangat dengan harga yang Subhanallah, murah
man!! Sebagai informasi, biaya –biaya yang aku tulis di cerita ini belum
termasuk biaya makan ya. Dan, berhubung aku dan Anzas bukan type orang yang mau
berhemat untuk urusan makan, yah, begitulah, budget kami justru besar untuk
porsi konsumsi. hehehhe
Tak lama kemudian mas Vian beserta sopir Jeep (Pak Naryo) datang.
Setelah sepakat dengan harga sewa jeep beserta rencana perjalanan Ke Kawah Ijen,
aku dan Anzas pun diantar ke salah satu hotel di kota Banyuwangi Oiya, harga
Sewa Jeep ini Rp 500.000 dengan rute: penginapan > Kawah Ijen >
penginapan/ stasiun jika akan melanjutkan perjalanan. Jeep ini muat untuk 5-6
orang, jadi makin banyak yang kawan, akan makin murah karena bisa sharing biaya
J
Sebenarnya kami tidak berencana menginap, namun dengan alasan
menyiapkan tenaga (alias butuh tidur sebelum pendakian kecil) dan juga
bersih-bersih, kami pun menginap sejenak di Hotel (aku lupa namanya euy) untuk
istirahat sejenak. Harga kamar di Hotel yang terletak di kota Banyuwangi, tak
jauh GOR Banyuwangi, ini berkisar antara Rp 100.000 (2 bed sederhana) - Rp 350.000an.
Setelah re-packing barang-barang untuk sekedar merapikan, sholat
dan bersih-bersih, aku dan Anzas menyempatkan diri jalan-jalan keluar hotel,
sepi bo!!! walau demikian, atas saran seorang teman Anzas yang asli Banyuwangi,
kami mencicipi kuliner bebek bakar yang lumayan enak di dekat GOR.
Kenyang, kami kembali ke hotel untuk tidur sejenak. Dan benar
sesuai janji, Sabtu 31 Mei 2014 sekitar pukul 01.30, Pak Naryo menjemput kami.
Dengan mata masih setengah melek, kami pun menembus dinginnya udara malam
Banyuwangi dan sepinya jalanan. Sepanjang perjalanan, Pak Naryo bercerita
tentang pengalaman beliau menjadi sopir travel baik di Banyuwangi maupun di
Bali. Menarik, dan tak kalah menarik lagi adalah cerita tentang Kawah Ijen
beserta peraturan-peraturan tak tertulisnya, hehehe. 1 jam sudah kami melewati
hutan-hutan dan jalanan sepi, sampailah kami di Paltuding, Basecamp sekaligus
tempat dimana mobil-mobil harus menurunkan penumpangnya. Di Paltuding kami
harus lapor dan membayar biaya administrasi sebesar Rp 2000/orang dan Rp 3000/
kamera! wow, murah sekali kawan! ahahahha.
Setelah pukul 03.00, pendakian pun dimulai. Aku dan Anzas
bergabung dengan puluhan pendaki lainnya. Udara yang sebelumnya dingin menusuk
tulang, kelamaan berangsur menghangat seiring dengan hangatnya tubuh karena
berjalan dan mendaki. Sebenarnya ada 2 pilihan waktu untuk mendaki, yaitu pagi
hari sampai dengan pukul 15.00 dan dini hari dimulai pukul 03.00. Peraturan ini
berlaku setelah Ijen sempat berstatus Siaga 3, sehingga waktu itu pendakian ke
Kawah Ijen dilarang. Dan kini setelah keadaan berangsur normal, kawan Ijen
dibuka kembali namun tetap dengan batasan waktu.
Butuh waktu sekitar 1-1,5 jam untuk sampai di bibir kawah dimana
kita sudah bisa menyaksikan Blue Fire. Namun buat aku dan Anzas, sangat tidak
afdhol jika tidak sekalian turun melihat lebih dekat fenomena alam ini. Butuh
waktu lumayan lama, sekitar ~30 menit untuk menuruni tebing bebatuan (termasuk
mencari jalan karena suasana yang masih gelap). Dan ingat, hati-hati,
jalanannya agak ngeri broh, jadi gunakan penerangan seoptimal mungkin!
Dan... Subhanallah, dengan jarak dekat kami melihat "Blue
Fire", fenomena alam yang bagiku masih sulit dicerna
Karena menyadari, entah apakah kami bisa kesini lagi, kami pun menyaksikan
(tentunya sambil poto-poto :p) blue fire sampai api benar-benar habis dan hanya
menyisakan asap putih. Karena itu, kami melewatkan sunrise di puncak kawah,
tapi tak mengapa sunrise bisa dimana saja hehehhe (menghibur diri sih
sebenarnya).
Karena (lagi-lagi) kami harus mengejar kereta untuk kembali ke
Surabaya, kami pun memutuskan untuk kembali ke Patulding setelah puas menikmati
keindahan alam yang sungguh luar biasa. Di sepanjang jalan inilah, kami banyak
bertemu bapak-bapak penambang Belerang yang dengan nafas terengahnya, mencoba
membawa belerang seberat 60-120 kg di pundaknya. Ya Allah, miris, dan tak tega
rasanya :(, bayangkan tanpa APD (Alat pelindung Diri) seperti masker, mereka
mengambil Belerang dari kawah ijen. Naik turun bukit dengan membawa beban
seberat itu dan tahukah kalian, Belerang yang mereka bawa dengan taruhan nyawa
(menurutku), hanya dihargai Rp800/ kg. Masya Allah.... Tak heran, jika cerita
Kawah ijen dan para penambangnya sampai diberitakan di TV luar negeri salah
satunya di Jerman (berdasarkan cerita teman SMA yang ada di Jerman).
Dan untuk teman-teman yang akan kesana, bawalah uang sekedar
goceng atau cemban, untuk membeli souvenir yang dijual oleh bapak-bapak
penambang. Souvenir ini berupa belerang yang dibentuk seperti bunga,
penyu, dll.
Sesampai kembali di Patulding, kami langsung sholat subuh (telat),
bersih-bersih dan langsung meneruskan perjalanan ke Stasiun Karang asem (1
stasiun setelah Banyuwangi Baru yang paling dekat dengan Patulding). Kami
memutuskan untuk naik kereta dari Banyuwangi ke Surabaya untk menghindari
kemacetan. Perjalanan yang memakan waktu ~6 jam ini tak akan membosankan,
karena di sepanjang jalan kita akan disuguhi pemandangan alam pedesaan yang sungguh
indah (hijau royo-royo :). Oiya, biaya tiket kereta untuk kelas bisnis berkisar
antara Rp100.000-160.000/ orang dan eksekutif sekitar Rp150.000-Rp200.000an.
Sampai di Surabaya Gubeng, kami segera sholat dan membeli bekal
persiapan untuk menuju ke Bandung. Perjalanan yang cukup lama (dari ujung ke
ujung jawa hahaha), namun lumayan sekalian bisa jalan-jalan sebentar di
Bandung. Oiya, tarif kereta dari Surabaya ke Bandung cukup bervariasi. Dan
kebetulan kami mendapat tiket kereta Api Mutiara selatan dengan harga berkisar
pada Rp 230.000-an/orang.
Esok paginya di Bandung, setelah perjalanan hampir 13 jam, kami
menyempatkan sebentar berjalan-jalan di kota "kreatif" ini sekalian
mencari oleh-oleh (karena di Banyuwangi selain tak tahu tempat oleh-oleh, kami
juga diburu oleh waktu #yaelah). Menjelang siang, kami putuskan kembali ke
Jakarta via Bus Primajasa Eksekutif Jurusan Bandung-Lebak Bulus dengan tarif Rp
60.000/ orang. Bus nyaman yang mengantarkan kami kembali ke penatnya Ibukota.
Yap, welcome back to reality and say hello to Jakarta :D
Note:
- Tons
of thanks untuk semua pihak yang membantu perjalanan singkat ini, termasuk bude
di Kebon Jeruk yang menyiapkan makan siang lezat untuk kami yang kelaparan setelah sampai Jakarta hehehe :D
- Untuk
menghindari complain Anzas tentang moda transportasi, maka kemungkinan besar
sie Transportasi untuk trip selanjutnya adalah Anzas. Yah, siap-siap naik pesawat
maksudnya ahahaha :D
Rincian biaya trip ala nurul bisa dihitung sendiri ya ;)
see you on the next a little Adventure!
