Thursday, 18 June 2015

Books For Indonesia

“Books are the quietest and most constant of friends; they are the most accessible and wisest of counselors, and the most patient of teachers.” -Charles William Eliot-

Berawal dari obrolan ringan dengan salah seorang manager di kantor, tercetuslah ide sederhana untuk membuat "tampungan" buku bagi karyawan di kantor yang kelebihan buku dan bingung kemana harus menyalurkannya. Ide ini mungkin mirip dengan beberapa program yang sudah berjalan. Bedanya, dropbox yang kami siapkan belum tahu kemana buku-buku ini akan dikirimkan, sedangkan biasanya dropbox buku diadakan untuk tujuan ke suatu program. Tujuan kami simple, apabila buku-buku tersebut telah terkumpul, kami siap mengirimkan kemana atau ke program sosial apa saja yang membutuhkan bantuan buku. Itulah kenapa program ini saya beri nama #BooksForIndonesia, dengan harapan buku-buku yang kami kumpulkan dapat menjangkau kemana saja wilayah Indonesia :)

kenapa buku? kenapa bukan pakaian bekas atau barang-barang lain? 
ya, pikir saya, dengan buku, seseorang bisa "berpetualang" kemana saja dengan imajinasinya. Dan tentunya dengan kondisi negara Indonesia saat ini, masih banyak anak-anak yang sulit mendapatkan akses bacaan yang berkualitas. Cukup dengan menyediakan 2 kotak plastik ukuran lumayan besar, yang dibagi untuk buku pelajaran dan non pelajaran, kotak tersebut akan menampung banyak sumber ilmu baru untuk anak-anak yang membutuhkan. 
Setelah kotak siap, saya mulai membuat blast email ke seluruh penghuni kantor, tak terkecuali sosialisasi di beberapa medsoc yang saya miliki. Dengan harapan, kawan-kawan saya bisa membuat program serupa di tempat kerjanya masing-masing. Dan puji syukur alhamdulillah, belum ada 2 minggu info #BooksForIndonesia, tak kurang 3 dus buku ukuran besar dan kecil mulai berdatangan. Tak hanya dari bapak ibu di kantor, namun dari kawan-kawan di luar kantor (baca: komunitas). Sungguh saya berterima kasih kepada seluruh donatur yang telah ikut menyukseskan program yang masih seumur jagung ini :)

Dan Alhamdulillah, dalam waktu 2 minggu dropbox #BooksForIndonesia nangkring di ruang kerja saya, kami pun siap mengirimkan 3 dus buku untuk program renovasi Ruang Inspirasi di Bengkalis (for further info, please visit: https://www.facebook.com/Indonesia.Menyala).

 Oiya, karena tidak semua buku sesuai dengan sasaran (misal anak-anak), maka buku tersebut kami sortir terlebih dahulu sebelum dikirim. Untuk buku-buku yang teridentifikasi untuk usia dewasa, maka buku tsb kami jual dengan harga bersahabat dan nantinya uang tersebut akan kami belanjakan untuk buku-buku yang sesuai untuk usia anak-anak :)

Program ini sangat simple, jika kawan-kawan berminat untuk membuat program serupa di tempat kerja masing-masing, kami sangat terbuka. Cukup tuliskan nama #BooksForIndonesia (nama kantor), dan infokan ke contact saya. Apabila kawan-kawan bingung penyalurannya, please feel free untuk contact saya :)

tertarik? 
please contact me via private mail: nurul.kuning@yahoo.com

dan mari kita ikut menyebarkan manfaat positive dari membaca v(^___^)v

Salam berbagi,
Nurul 
Orang yang rajin membaca bagaikan sedangmelihat masa lalu dan masa depan. Hadir disetiap sejarah, dan hadir di setiap imajinasi orang-orang hebat. - See more at: http://www.bijakkata.com/2013/07/Kumpulan-motivasi-kata-mutiara-bijak-Membaca-buku.html#sthash.ujqgxhOL.dpuf
Orang yang rajin membaca bagaikan sedangmelihat masa lalu dan masa depan. Hadir disetiap sejarah, dan hadir di setiap imajinasi orang-orang hebat. - See more at: http://www.bijakkata.com/2013/07/Kumpulan-motivasi-kata-mutiara-bijak-Membaca-buku.html#sthash.ujqgxhOL.dpuf
Orang yang rajin membaca bagaikan sedangmelihat masa lalu dan masa depan. Hadir disetiap sejarah, dan hadir di setiap imajinasi orang-orang hebat. - See more at: http://www.bijakkata.com/2013/07/Kumpulan-motivasi-kata-mutiara-bijak-Membaca-buku.html#sthash.ujqgxhOL.dpuf

Tuesday, 17 February 2015

Visiting Kenekes Tribe (baca: Baduy) for a while

Terlalu lama di hingar bingar dunia yang lapar, terkadang membuat lupa apa makna hidup yang bersahaja. Harmoni alam ini jawabannya, menyatu dengannya seolah membuat aku terpekur lama, "hidupkah aku selama ini?" _anonim_

ahaaaaa, terlambat sudah menceritakan perjalanan hampir 8 bulan yang lalu. Tapi toh tak ada salahnya yes.. :)
Okay dokay, kali ini aku mau sharing tentang perjalanan singkat ke tanah suku Kenekes yang lebih terkenal disebut suku Baduy.
Sudah lama sebenarnya rencana ke suku ini, sejak pulang dari Karimunjawa akhir 2012 silam. Tapi karena satu dan lain hal tertunda hingga sampailah pada sekitar bulan Mei 2014. Setelah KI Jakarta 3, aku dan salah seorang kawan, Day, merencanakan untuk Open trip ke Baduy di tengah bulan Juni. Tidak seperti istilah Open Trip lain yang sifatnya komersial, open trip kami ini tidak bersifat komersial, tapi memang kami gunakan untuk mencari teman jalan dengan cost sharing :)

nah, sebelum yang belum tahu tanya tentang suku Kenekes ini, berikut informasi singkat mengenai suku ini via Wikipedia:

- Orang Kanekes atau orang Baduy/Badui adalah suatu kelompok masyarakat adat sub-etnis Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Populasi mereka sekitar 5.000 hingga 8.000 orang, dan mereka merupakan salah satu suku yang menerapkan isolasi dari dunia luar. Selain itu mereka juga memiliki keyakinan tabu untuk difoto, khususnya penduduk wilayah Baduy dalam.
Sebutan "Baduy" merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau "orang Kanekes" sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo (Garna, 1993) - 

Nah, sudah nyambung? semoga.. sedikit tergelitik ketika salah seorang teman bertanya, "Lo ngapain ngedatengin suku-suku begitu?", hmmm jawabannya simpel saja, "karena gw gak mau lihat kehidupan yang begitu-begitu saja man!" hohoho, nangkep? (lagi-lagi) semoga :)

Setelah woro woro sana sini, akhirnya dapatlah sekumpulan manusia sejumlah 8 orang (halah) yang siap untuk berangkat ke suku Kenekes. Itinerary singkat dibuat dengan tujuan perjalanan kami terjadwal. Day dan Imron yang kebetulan sudah berpengalaman kesana akan menjadi "Guide" buat kami. Oiya, 2 diantara 8 orang Team ekspedisi kali ini adalah mbak Metha dan mbak endah yang tak lain adalah 2 relawan inspirator di KI Jakarta 3 dimana aku sebagai fasilnya (baca: fasil sesat hihaaa).

Sesuai kesepakatan, kami berangkat pada 14 Jun 2014 dengan MP di stasiun Kereta Tanah Abang. Kami memilih kereta Rangkasjaya yang akan membawa kami langsung ke stasiun Rangkasbitung. Tarif dasar kereta ini relatif murah, Rp 15000,- namun perlu dicatat bahwa pembeliannya harus on the spot alias gak bisa beli secara online.
Setelah team lengkap (kecuali Day dan Imron yang tinggal di Serang), kami siap menunggu kereta yang tak lama kemudian datang. Sekitar pukul 08.00, kereta kami meluncur menuju Rangkasbitung dan dibutuhkan ~ 3 jam perjalanan dengan pemandangan khas Indonesia bagian pedesaan, membuatku tercenung, betapa kaya Indonesia (terlepas dari korupsi yang juga membuat terpesona -.-'). Di perjalanan pula, kami bertemu dengan seorang karyawan PT KAI yang banyak menceritakan pengalamannya selama bekerja di KAI. Si Bapak, yang asli Rangkasbitung, bercerita bahwa PT KAI kini telah menjelma menjadi sebuah BUMN yang maju pesat di bawah kepemimpinan Ignanius Jonan (kala itu). Jonan dikenal tegas dan tak segan segan memecat karyawan yang melakukan kesalahan. Dari sisi kesejahteraan, si Bapak bercerita, bahwa telah banyak peningkatan. Semoga saja, Jonan mampu menjadi menteri yang baik di Dept. Perhubungan aamiin....

Sesampainya di stasiun Rangkasbitung, kami mengucapkan salam "sampai juga lagi" dengan si Bapak. Kami pun mencari transportasi umum (angkot) untuk menuju ke terminal. Biaya angkot dari stasiun sampai terminal sekitar 50ribu untuk 8 orang. Dari terminal, kami naik kendaraan semacam elf yang hanya sehari sekali mengangkut penumpang ke Desa Ciboeger (desa terakhir sebelum kampong suku Baduy). Biaya elf ini 20ribu/ orang. Sesampai di Ciboleger, kami pun mengisi perut sebelum melanjutkan perjalanan ke kampong Baduy. Selain itu, karena kami akan menginap di rumah warga Baduy, kami menyiapkan bekal makanan mentah untuk makan selama disana. Banyak warung kelontong yang tersedia sepanjang jalan menuju kampong Baduy, jadi jangan khawatir :).
Sebagai pelengkap, kami pun membeli kain khas suku Baduy. Harga yang ditawarkan cukup beragam, tergantung jenis kain dan lebarnya. Kami memilih kain  dengan harga 25ribu.
Di saat makan dan persiapan perbekalan, kami dijemput oleh Pak Aam. Beliau adalah warga suku Baduy Luar yang akan menjadi pemandu kami.


Setelah perbekalan lengkap, kami pun memulai perjalanan menuju ke kampung suku Baduy. Sebelum memasuki Kampung , kita diwajibkan lapor (kepada semacam penjaga) dan disini kita bisa memberikan sumbangan sukarela. Perijinan selesai, kami pun memulai perjalanan yang "menanjak", ya menanjak, karena jalanan seperti bersudut, vertical :D. Setelah berjalan sekitar 20 menit, beberapa anggota tim mulai menunjukkan gejala kelelahan, pucat dan terengah engah. hehhehe :D. Langsung merasa, bahwa informasi tentang "medan" tempat ini sangat kurang. Untuk yang biasa olahraga , mungkin tak akan menjadi masalah. Namun, untuk yang jarang olahraga kardio, mohon untuk olahraga rutin setidaknya selama seminggu sebelum tracking di kampung Baduy :).


Selama perjalanan, kami berpapasan dengan beberapa orang Baduy yang akan kembali ke kampungnya. Luar biasa.... tanpa alas kaki, membawa beban, dan sepertinya tak ada lelahnya. Mungkin inilah yang disebut "anugerah alam".
Karena kendala stamina beberapa anggota team dan kondisi yang makin gelap, kami memutuskan untuk menginap di rumah Pak Aam (Baduy Luar). Awalnya kami berencana untuk bermalam di Baduy Dalam, agar bisa ketemu dengan tetua adat.

Sesampai rumah Pak Aam, kami pun bebersih dan menyiapkan tempat untuk merebahkan badan. Pak Aam tinggal bersama istri dan 2 anaknya yang tidak bersekolah. Inilah budaya suku Kenekes yang sampai sekarang masih sulit untuk diubah. Setelah makan dan ngobrol, mb Metha dkk, pun memutuskan untuk istirahat. Sementara aku, Dayat dan Imron meneruskan perbincangan dengan Pak Aam. Bulan "penuh" cantik pun menemani obrolan kami sampai larut dini hari. Inilah salah satu yang membuat aku makin terpaku dengan kondisi alam di Baduy, Bulan seolah menerangi seluruh kampong di perbukitan yang sama sekali belum tersentuh listrik. Subhanallah...
Dan Pak Aam pun banyak bercerita  tentang kehidupan suku Baduy baik dalam maupun luar. Dari kebiasaan suku Baduy sampai merembet ke masalah politik, dari cerita tentang perubahan kampung, kunjungan Ratu Atut (yang waktu itu sedang hot-hotnya dibicarakan) sampai harapan pak Aam agar anaknya bisa bersekolah. Cerita cerita itu terpaksa dihentikan ketika salah satu dari kami melihat jam dan ternyata sudah hampir menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Kami harus menyiapkan tenaga untuk esok hari, perjalanan sebenarnya ke kampung Baduy Dalam.

Pagi hari, setelah bebersih, sarapan dan menyiapkan bekal, kami mulai perjalanan menuju kampung Baduy Dalam.  Kampung Baduy ini cukup tersebar, seperti saat perjalanan, beberapa kali kami menemukan kampung kampung suku ini.

wanita suku baduy luar sedang menenun kain


Seperti menemukan penjual es di tengah terik siang, kami berteriak kegirangan ketika  kami menemukan sungai yang jernih dan mengalir cukup deras. Tak menunggu lama, kami pun menceburkan diri dan subhanallah... segar cint! Wilayah ini merupakan kampung terakhir suku Baduy Luar sebelum menuju daerah Kampung Baduy Dalam yang jaraknya... (jangan dibayangkan hehehhe).
 
 
 


Setelah puas mandi dan bermain air, kami melanjutkan perjalanan. Sungguh perjalanan yang luar biasa, mendaki gunung lewati lembah! Amazing! Walau beberapa anggota tim ekspedisi kali ini ada yang terlihat kelelahan, namun kami saling menyemangati, demi mencapai kampung Baduy Dalam. Namun, karena kelelahan fisik yang tidak bisa lagi ditoleransi , salah satu anggota tim akhirnya menyerah dan tidak meneruskan perjalanan. Dengan ditemani Imron, mbak kita yang satu itu kembali ke rumah Pak Aam. So Gaes, Please siapin fisik jika bener-bener mau tracking ke kampung Baduy ini :)
Sepanjang perjalanan pun, kami berkali kali berpapasan dengan warga suku Baduy luar (berpakaian Hitam) dan Baduy Dalam (berpakaian putih). Sungguh fisik tempaan alam yang luar biasa, tanpa alas kaki, mereka berjalan naik turun bukit seperti tak ada beban. Bahkan, sekali dua kali, melihat wanita suku baduy yang menggendong bayi tetap berjalan biasa. Kami? ahahhaa luar biasa terengah engah dan beberapa kali berhenti untuk istirahat hehehe :D

Perjalanan sekitar 3 jam pun berbuah manis, kami sampai di Kampung terluar Baduy Dalam (tetiba lupa namanya). Sebenarnya ada 3 kampung di baduy Dalam, namun karena keterbatasan waktu, kami hanya berkunjung di 1 kampung. Kampung ini tidak terlalu besar, namun cukup padat penduduknya. Anak anak berlari dengan baju adat mereka, ibu ibu muda hilir mudik membawa kayu ataupun menggendong bayi. Menurut cerita, kebanyakan perempuan baduy sudah menikah di umur belia, 15 tahun! uwoooww. Tapi maklum, tak adanya pendidikan dan kehidupan yang hampir "stagnant" mungkin berperan dalam pernikahan dini ini.
Kami pun berjalan mengeksplorasi kehidupan masyarakat di Kampung ini. Melihat ibu ibu mencuci baju di kali tanpa deterjen, melihat anak dan bapaknya mencari ikan, sampai memperhatikan cara memasak mereka, membuat kami berdecak kagum. Tanpa kemampuan membaca, tanpa listrik dan tanpa sinyal telepon seluler, kehidupan mereka berjalan sedemikian rupa. Sungguh, lagi lagi aku hanya bisa terkesima :)

Perlu diingat, di kampung ini ada suatu wilayah (rumah dan pekarangan) yang tidak boleh kita datangi. Konon, katanya tempat tersebut adalah tempat tinggal tetua adat yang tidak sembarang orang bisa menemuinya. Pekarangannya pun cukup berbeda dengan rumah lain, lebih rapi dan hijau oleh rumput yang entah siapa yang menanam. Di kampung ini, tidak semua bisa berbahasa Indonesia (ya iya :D), dan kebanyakan mereka berbahasa sunda campur bahasa Baduy. Konon pula, ketika kita berkenalan dengan mereka, memberikan alamat rumah, suatu keniscayaan, suatu hari mereka akan datang mengunjungi kita. Catat: mereka akan datang berjalan kaki dan tanpa GPS! Subhanallah (lagi-lagi).

Setelah sekitar 1 jam kami berinteraksi dengan warga kampung, kami pun memutuskan untuk kembali ke Kampung Baduy Luar (Rumah Pak Aam). Perjalanan pulang yang lebih ringan, karena kami telah sampai di tujuan kami (walau hanya 1 kampung). Setelah sampai di rumah Pak Aam, kami pun istirahat, makan dan berkemas untuk kembali ke Jakarta.
Menginap di Rumah Pak Aam, tidak ada tariffnya, namun, monggo sukarela untuk memberikan sedikit rejeki kita ke Bapak dan istrinya yang telah memberikan tumpangan tempat istirahat dan memasak makanan untuk kita :). Sebelum pamitan, kami pun bertukar no. HP dengan pak Aam. Jangan salah, walau tidak bisa membaca, pak Aam punya telepon seluler yang bisa kita hubungi jika si Bapak sedang ada di Ciboeleger (maklum di kampungnya tak ada sinyal hehehe).

Jam menunjukkan pukul 15.00 lebih sekian saat kami sampai di Ciboleger. Itu artinya, sudah tidak ada transportasi yang akan membawa kami ke Rangkasbitung (jadwal elf hanya sampai pukul 14.00). Akhirnya setelah tawar menawar, kami menyewa mobil semacam angkot untuk menuju ke Rangkasbitung. Sewa mobil ini cukup lumayan mahal: 300ribu/ 7 orang (7 karena Dayat pulang duluan). Namun mau tak mau kami sanggupi, demi bisa pulang. Sesampainya di Stasiun Rangkasbitung, kami bergegas ke loket untuk membeli tiket kereta (kereta apapun yang ada). Kami pun mendapat tiket untuk kereta tujuan Merak - Muara Angke dengan harga 5ribu/ tiket. Murah? iya, siap-siap berdiri dan berdesak-desakan? harus :D Kereta ini berangkat sekitar pukul 17.00 (lupa tepatnya) dan berhenti di setiap stasiun.
Walau demikian, di perjalanan pulang kami semua terlihat puas (kecuali mb Endah karena belum sampai di Baduy Dalam hehehe). Aku puas karena sudah bisa melihat sisi lain kehidupan, bahagia karena bersyukur dilahirkan di tengah masyarakat yang terus berkembang.
Kami pun berpisah satu persatu di stasiun tujuan masing-masing. Dan aku pun kembali pulang, bertemu partner hidup yang (mohon maaf) harus ditinggal sebentar untuk perjalanan ini karena saat itu sang partner sedang sibuk kuliah :)








-See you in the next trip-

Salam melangkah,
Nurul


 

Tuesday, 24 June 2014

Getting Lost in Baluran National Park & Ijen Crater part 2

Nah, let me continue the story about this, yes this, Ijen Crater...

Setelah berpamitan dan mendapatkan info tentang transportasi yang bisa kami pilih (hanya satu ini, jadi ya gak bisa milih sebenernya :D), kami pun segera menunggu bis kecil yang dimaksud. Bis ini akan membawa kami menuju Cungking, sebuah tempat yang saat itu  tak terbayangkan di benakku. Bis kecil dengan banyak peminat karena memang jarang dan mungkin satu-satunya yang menuju Cungking tanpa berhenti di Pelabuhan Ketapang (pelabuhan penghubung Banyuwangi dan Bali). Tarif bis dari Gerbang Baluran sampai di Cungking ini relatif murah yaitu Rp 10.000/ orang,
Walaupun sesak, namun bis ini lumayan nyaman apalagi Bapak sopir bus cukup sabar menanggapi pertanyaan-pertanyaanku seputar wisata alam di Banyuwangi (thanks Pak, gara-gara info Bapak, aku jadi mupeng ingin ke red Island, haha -next trip!)

Sampai  di Cungking yang tak lain adalah sebuah perempatan jalan (ow ow) kami pun menghubungi nomor Mas Vian, teman mas Ferdy yang memiliki jasa penyewaan Jeep ke kawah Ijen. Sembari beristirahat dan menunggu Mas Vian, kami memutuskan untuk makan siang di warung sederhana yang menyajikan bakso dan nasi rames plus jeruk hangat dengan harga yang Subhanallah, murah man!! Sebagai informasi, biaya –biaya yang aku tulis di cerita ini belum termasuk biaya makan ya. Dan, berhubung aku dan Anzas bukan type orang yang mau berhemat untuk urusan makan, yah, begitulah, budget kami justru besar untuk porsi konsumsi. hehehhe
Tak lama kemudian mas Vian beserta sopir Jeep (Pak Naryo) datang. Setelah sepakat dengan harga sewa jeep beserta rencana perjalanan Ke Kawah Ijen, aku dan Anzas pun diantar ke salah satu hotel di kota Banyuwangi Oiya, harga Sewa Jeep ini Rp 500.000 dengan rute: penginapan > Kawah Ijen > penginapan/ stasiun jika akan melanjutkan perjalanan. Jeep ini muat untuk 5-6 orang, jadi makin banyak yang kawan, akan makin murah karena bisa sharing biaya J

Sebenarnya kami tidak berencana menginap, namun dengan alasan menyiapkan tenaga (alias butuh tidur sebelum pendakian kecil) dan juga bersih-bersih, kami pun menginap sejenak di Hotel (aku lupa namanya euy) untuk istirahat sejenak. Harga kamar di Hotel yang terletak di kota Banyuwangi, tak jauh GOR Banyuwangi, ini berkisar antara Rp 100.000 (2 bed sederhana) - Rp 350.000an.
Setelah re-packing barang-barang untuk sekedar merapikan, sholat dan bersih-bersih, aku dan Anzas menyempatkan diri jalan-jalan keluar hotel, sepi bo!!! walau demikian, atas saran seorang teman Anzas yang asli Banyuwangi, kami mencicipi kuliner bebek bakar yang lumayan enak di dekat GOR.

Kenyang, kami kembali ke hotel untuk tidur sejenak. Dan benar sesuai janji, Sabtu 31 Mei 2014 sekitar pukul 01.30, Pak Naryo menjemput kami. Dengan mata masih setengah melek, kami pun menembus dinginnya udara malam Banyuwangi dan sepinya jalanan. Sepanjang perjalanan, Pak Naryo bercerita tentang pengalaman beliau menjadi sopir travel baik di Banyuwangi maupun di Bali. Menarik, dan tak kalah menarik lagi adalah cerita tentang Kawah Ijen beserta peraturan-peraturan tak tertulisnya, hehehe. 1 jam sudah kami melewati hutan-hutan dan jalanan sepi, sampailah kami di Paltuding, Basecamp sekaligus tempat dimana mobil-mobil harus menurunkan penumpangnya. Di Paltuding kami harus lapor dan membayar biaya administrasi sebesar Rp 2000/orang dan Rp 3000/ kamera! wow, murah sekali kawan! ahahahha.

Setelah pukul 03.00, pendakian pun dimulai. Aku dan Anzas bergabung dengan puluhan pendaki lainnya. Udara yang sebelumnya dingin menusuk tulang, kelamaan berangsur menghangat seiring dengan hangatnya tubuh karena berjalan dan mendaki. Sebenarnya ada 2 pilihan waktu untuk mendaki, yaitu pagi hari sampai dengan pukul 15.00 dan dini hari dimulai pukul 03.00. Peraturan ini berlaku setelah Ijen sempat berstatus Siaga 3, sehingga waktu itu pendakian ke Kawah Ijen dilarang. Dan kini setelah keadaan berangsur normal, kawan Ijen dibuka kembali namun tetap dengan batasan waktu.
Butuh waktu sekitar 1-1,5 jam untuk sampai di bibir kawah dimana kita sudah bisa menyaksikan Blue Fire. Namun buat aku dan Anzas, sangat tidak afdhol jika tidak sekalian turun melihat lebih dekat fenomena alam ini. Butuh waktu lumayan lama, sekitar ~30 menit untuk menuruni tebing bebatuan (termasuk mencari jalan karena suasana yang masih gelap). Dan ingat, hati-hati, jalanannya agak ngeri broh, jadi gunakan penerangan seoptimal mungkin!

Dan... Subhanallah, dengan jarak dekat kami melihat "Blue Fire", fenomena alam yang bagiku masih sulit dicerna

Karena menyadari, entah apakah kami bisa kesini lagi, kami pun menyaksikan (tentunya sambil poto-poto :p) blue fire sampai api benar-benar habis dan hanya menyisakan asap putih. Karena itu, kami melewatkan sunrise di puncak kawah, tapi tak mengapa sunrise bisa dimana saja hehehhe (menghibur diri sih sebenarnya).



Karena (lagi-lagi) kami harus mengejar kereta untuk kembali ke Surabaya, kami pun memutuskan untuk kembali ke Patulding setelah puas menikmati keindahan alam yang sungguh luar biasa. Di sepanjang jalan inilah, kami banyak bertemu bapak-bapak penambang Belerang yang dengan nafas terengahnya, mencoba membawa belerang seberat 60-120 kg di pundaknya. Ya Allah, miris, dan tak tega rasanya :(, bayangkan tanpa APD (Alat pelindung Diri) seperti masker, mereka mengambil Belerang dari kawah ijen. Naik turun bukit dengan membawa beban seberat itu dan tahukah kalian, Belerang yang mereka bawa dengan taruhan nyawa (menurutku), hanya dihargai Rp800/ kg. Masya Allah.... Tak heran, jika cerita Kawah ijen dan para penambangnya sampai diberitakan di TV luar negeri salah satunya di Jerman (berdasarkan cerita teman SMA yang ada di Jerman).
Dan untuk teman-teman yang akan kesana, bawalah uang sekedar goceng atau cemban, untuk membeli souvenir yang dijual oleh bapak-bapak penambang. Souvenir ini  berupa belerang yang dibentuk seperti bunga, penyu, dll.

Sesampai kembali di Patulding, kami langsung sholat subuh (telat), bersih-bersih dan langsung meneruskan perjalanan ke Stasiun Karang asem (1 stasiun setelah Banyuwangi Baru yang paling dekat dengan Patulding). Kami memutuskan untuk naik kereta dari Banyuwangi ke Surabaya untk menghindari kemacetan. Perjalanan yang memakan waktu ~6 jam ini tak akan membosankan, karena di sepanjang jalan kita akan disuguhi pemandangan alam pedesaan yang sungguh indah (hijau royo-royo :). Oiya, biaya tiket kereta untuk kelas bisnis berkisar antara Rp100.000-160.000/ orang dan eksekutif sekitar Rp150.000-Rp200.000an.

Sampai di Surabaya Gubeng, kami segera sholat dan membeli bekal persiapan untuk menuju ke Bandung. Perjalanan yang cukup lama (dari ujung ke ujung jawa hahaha), namun lumayan sekalian bisa jalan-jalan sebentar di Bandung. Oiya, tarif kereta dari Surabaya ke Bandung cukup bervariasi. Dan kebetulan kami mendapat tiket kereta Api Mutiara selatan dengan harga berkisar pada Rp 230.000-an/orang.


Esok paginya di Bandung, setelah perjalanan hampir 13 jam, kami menyempatkan sebentar berjalan-jalan di kota "kreatif" ini sekalian mencari oleh-oleh (karena di Banyuwangi selain tak tahu tempat oleh-oleh, kami juga diburu oleh waktu #yaelah). Menjelang siang, kami putuskan kembali ke Jakarta via Bus Primajasa Eksekutif Jurusan Bandung-Lebak Bulus dengan tarif Rp 60.000/ orang. Bus nyaman yang mengantarkan kami kembali ke penatnya Ibukota. Yap, welcome back to reality and say hello to Jakarta :D




Note:
-  Tons of thanks untuk semua pihak yang membantu perjalanan singkat ini, termasuk bude di Kebon Jeruk yang menyiapkan makan siang lezat untuk kami yang kelaparan setelah sampai Jakarta hehehe :D
- Untuk menghindari complain Anzas tentang moda transportasi, maka kemungkinan besar sie Transportasi untuk trip selanjutnya adalah Anzas. Yah, siap-siap naik pesawat maksudnya ahahaha :D 

Rincian biaya trip ala nurul bisa dihitung sendiri ya ;)
see you on the next a little Adventure!

Monday, 23 June 2014

Getting Lost in Baluran National Park & Ijen Crater part 1

Akhir bulan Mei 2014 dengan segala warna warni kalendernya pun datang... yap, kalender dengan warna tanggal yang berselang seling hitam dan merah merupakan waktu yang pas untuk sejenak meninggalkan kantor dan kehidupan Jakarta yang sesak dan makin sesak...

Setelah sekian lama merencanakan perjalanan ini, bertanya ke beberapa teman kantor yang konon pernah kesana dan tentunya riset kecil-kecilan dengan browsing sana sini, akhirnya kubuat plan trip dengan mantap setengah matang. Haha, kenapa kubilang setengah matang, karena tempat yang sudah fix untuk dikunjungi adalah Baluran dan selebihnya tergantung kondisi dan waktu yang masih tersedia. Dan seperti biasa, partner hidupku yang ganteng itu menyerahkan semua rencana ke aku (hihihihi, no complaint ya Zas!)

Dengan tiket kereta PP di tangan, Jakarta-Sby dan Sby-Bandung (karena tak ada lagi tiket Sby-Jakarta), dan pengajuan cuti di-approve, hari Rabu 28 Mei 2014, aku berangkat ke kantor dengan membawa serta segala peralatan adventure-ku. 1 ransel dan 1 tas berisi kamera kutenteng dengan bahagia hehehe. Setelah menghabiskan setengah hari berada di kantor dengan nitip ini itu (kerjaan_red), aku pun siap-siap ngacir ke stasiun (cuti 1/2 hari :D). Aku dan Anzas janjian untuk bertemu langsung di Stasiun Ps. Senen agar lebih efektif dibanding harus balik ke rumah mengingat dia juga ada pekerjaan. 

Banyak pilihan kereta yang bisa dipilih, namun harus diperhatikan untuk memesan tiket kereta jauh-jauh hari apalagi saat liburan. Karena semangat yang besar untuk "memperkenalkan" bagaimana nge-trip ala Backpacker dengan biaya minimal, aku membeli tiket kereta ekonomi Kertajaya dengan harga @Rp 50000! ahahhaha masih kebayang muka anzas ketika tahu kami akan naik kereta ekonomi sampai Surabaya :D Maka tak heran, ketika dia mulai complaint, karena ya... dia tak biasa (padahal aku juga gak biasa :D). Namun Alhamdulillah, kami mendapat bonus 2 slot tempat duduk, karena kebetulan tempat duduk di sebelah kami kosong. Kondisi kereta ekonomi saat ini yang relatif jauh lebih nyaman, pun membuat Anzas tak complaint lagi selama perjalanan (mission success). Di kereta ini, kami bertemu beberapa kelompok backpacker lain yang entahpunya tujuan yang sama atau tidak dengan kami. Dan begitulah, kereta melaju cepat, membawa kami sampai di stasiun Surabaya Turi setelah perjalanan sekitar 12 jam.

Sekitar pukul 03.45 kami sampai di Stasiun Surabaya Turi. Stasiun ini bukan merupakan stasiun utama di Surabaya, namun di stasiun ini kami bisa melihat commuter line ala Surabaya yang jujur baru saat itu aku tahu. ahahhaha
Stasiun Surabaya Turi menjelang subuh

Setelah sholat dan bersih-bersih sekenanya (karena ternyata masjid di dekat stasiun tidak menyediakan "fasilitas" kamar mandi untuk para traveler), kami melangkah dengan semangat ke warung Soto, hehehe, iya, Anzas harus makan dulu sebelum beraktivitas :D. Kenyang, kami meneruskan perjalanan dengan naik bus menuju ke terminal Bungurasih (tiket Rp5000/orang).Kkarena pagi, jalanan masih cukup lengang sehingga kami bisa menikmati jalanan Surabaya yang kini (wow) rindang dengan taman-taman hijau di tengah jalanan. Sungguh luar biasa bu Risma! Sejenak tertegun ketika melihat nama jalan yang sama dengan nama sebuah jalan di Jogja: Jalan Pasar Kembang! aha, hanya berdoa semoga yang disini positive. Di sepanjang jalan pun aku melihat spanduk-spanduk yang mendukung penutupan Dolly. Hmmm lagi-lagi, semangat bu Risma!

Sekitar satu jam perjalanan, sampailah kami di terminal Bungurasih dimana kami harus berganti bis yang menuju ke terminal Probolinggo. Tarif bis dari Bungurasih ke Probolinggo @Rp 10.000/orang dengan waktu tempuh sekitar 1 jam.
Sesampai di terminal Probolinggo, kami bak dua orang yang diperebutkan, banyak macam bis yang akan menawarkan perjalanan untuk menuju Baluran, jangan cepat kena rayuan.. hahahha banding-bandingkan harga dan fasilitas yang didapatkan dan ingat cari bis Jurusan Banyuwangi yang akan lewat Situbondo (karena ada bis jurusan Banyuwangi/ Bali namun tidak melewati gerbang Taman Nasional Baluran). Setelah membandingkan, akhirnya kami memilih sebuah bis AKAS dengan tarif @Rp 32.000/orang.

Sepanjang perjalanan dari Probolinggo sampai ke Situbondo, kami disuguhi berbagai keindahan alam. Bayangkan, kanan pegunungan, kiri pantai dan lautan... wow, keren pake banget pokoknya! haha. setelah sekitar 3 jam perjalanan, di luar rencana, kami turun di depan SMP N 1 Situbondo. Salah seorang manager kantor yang berasal dari Situbondo menawarkan bantuan untuk mengantar kami langsung ke Baluran. Aku sudah menolak dengan halus karena tak ingin merepotkan, namun si Ibu Manager ini bersikukuh dengan alasan supaya anaknya juga bisa melihat Baluran. Okay, dan dijemputlah kami oleh adik si Ibu yang akhirnya membawa kami istirahat sejenak (ISHOMA) di rumahnya (note: yang sedang liburan ke Situbondo itu suami dan anak tertua si Ibu Manager, si Ibunya sendiri "jaga kandang" di kantor, hehehe).
Selesai makan dan sholat, kami berpamitan dan diantar menuju Baluran  oleh suami dan anak si ibu. Sopir keluarga Ibu ini bercerita banyak tentang Situbondo dan segala pernak perniknya kepada kami. Dari Pondok pesantren dengan para kyainya sampai dengan urusan politik. hehehe, satu kesanku: Situbondo adalah kota yang relatif sepi dan tenang dan mungkin cocok untuk para pensiunan :)

Setelah sekitar hampir 2 jam, dengan pemandangan hutan beserta monyet-monyet yang mulai turun ke jalan, sampailah kami di Gerbang pintu masuk Taman Nasional Baluran. Disini kami harus lapor tentang maksud dan tujuan kedatangan.

Dari gerbang ini, kami kemudian menuju bagian administrasi. Biaya masuk per orang adalah Rp 7500 (murmer kan :D) dan 1 mobil Rp15000. Dengan alasan bahwa 3 orang lainnya hanya mengantar, maka kami hanya diminta membayar biaya masuk untuk 2 orang plus biaya mobil. Oiya, untuk yang tidak membawa kendaraan sendiri, disini ada ojek yang bisa mengantar dari gerbang sampai di Home stay Bekol atau Bama. Tarifnya lumayan Rp 40.000 - 50.000/motor untuk perjalanan sekitar 40-60 menit. Mau jalan kaki? boleh aja, tapi siap-siap gempor karena jaraknya cukup jauh hehehhe.
Dan malam ini aku dan anzas akan menginap di Homestay Bama, homestay yang berada di pinggiran pantai Bama. Awalnya  aku prefer menginap di Bekol, jejeran homestay yang berhadapan langsung dengan Savannah Bekol sehingga bisa mengintip aktivitas binatang di savannah saat malam hari. Namun, karena masuk kategori pemesanan dadakan  (H-5 keberangkatan), homestay di Bekol full booked (maklum liburan) dan kami memutuskan untuk stay di Bama dengan tarif Rp 250.000/ malam.

Sekitar pukul 16.00 sampailah kami di Bama. Sore itu, pantai yang masih cukup virgin ini masih ramai dengan pengunjung, baik mereka yang hanya duduk-duduk menikmati sore maupun mereka yang selesai snorkeling dan diving. Wonderful, monyetnya banyak banget booo! Tempat tinggal monyet-monyet ini terbagi menjadi beberapa wilayah dan mereka tak segan-segan merebut makanan pengunjung.
Setelah "Say bye bye" ke pengantar kami yang baik, kami pun bergegas menuju homestay. hmmmm, tak ada gordynnya, dan sepertinya kami akan sepi di tempat ini, kenapa? karena selain tak ada listrik (listrik hanya tersedia mulai pukul 18.00 - 23.00), sinyalpun sama sekali menghilang. :D itulah kenapa, malam harinya kami memutuskan untuk tidur di resort Bama, tempat tinggal para penjaga hutan ini. Oiya, di Baluran pukul 17.00 sudah cukup gelap dan bukan hal bijkasana jika anda ingin jalan-jalan di sore hari menjelang malam mengingat tak ada listrik dan kendaraan yang lewat.
Di resort yang tak jauh dari homestay, kami disambut hangat oleh mas Ferdy (yang ternyata orang bogor, Alumni IPB), Mas teguh dan Pak Didi . Pembicaraan seputar Baluran pun mengalir saat kami ngopi bareng sebelum tidur.
Karena tak ingin melewatkan sunrise, setelah sholat subuh aku dan Anzas langsung meluncur ke pantai, menunggu si kuning bulat memancar.. dan bener-bener merasa ini pantai pribadi - tak ada satupun orang yang disana kecuali kami. Setelah menunggu beberapa menit muncullah sang mentari dengan semburat merahnya, subhanallah!

hanya bisa berdecak kagum dan entah apa rasanya, bahagia! hahaha...
Dan baru beberapa menit kemudian, orang-orang mulai berdatangan (kemungkinan mereka yang menginap di Bekol).
Setelah puas melihat pantai dan sunrisenya, aku dan Anzas memutuskan untuk menelusuri jalanan menuju Savannah Bama dan Bekol. Di sepanjang jalan yang rindang, kami disuguhi bermacam-macam vegetasi dan beberapa binatang yang sedang keluar, monyet, rusa, dan banteng atau entah itu kerbau jawa.

 
Dari Savannah Bama, kami bergerak ke Savannah Bekol, dimana konon tiap pagi atau malamnya banyak binatang turun ke savannah ini untuk minum. Jadi tak heran, ketika kami melihat ada beberapa sumber air di Savannah ini.
Kepala-kepala kerbau jawa, Banteng dan sapi, could you identified it?

setelah puas menelusuri Savannah, aku dan Anzas mengakhiri perjalanan dengan naik ke Gardu pandang dan begitu kagum ketika melihat pantai, gunung, dan hutan dalam waktu yang bersamaan. Subhanallah! What a beautiful Indonesia!

Puas melihat keindahan alam Baluran dari gardu pandang, kami kemudian kembali ke Bama dengan mencarter ojek motor. Selain karena hari mulai panas, kami juga harus mengejar waktu mengingat hari itu  adalah Jumat (Anzas tak mau sampai ketinggalan Sholat Jumat, Good Man :) ).
Biaya untuk naik ojek dari Bekol ke Bama Rp 15000/ motor.
Sesampai di Bama, kami pun langsung menuju Mangrove conservation yang terletak sekitar 50 m dari resort Bama. Selain sebagai pembudidayaan Mangrove yang berfungsi menahan ombak air laut/ mencegah abrasi, tempat ini juga berfungsi sebagai tempat tinggal sebagain kawanan monyet. Jadi tak heran, ketika kami menjelajah tempat ini, banyak monyet bergelantungan.
Puas menjelajah konservasi Mangrove, kami kembali ke homestay untuk bersiap2 keluar dari TN Baluran. Sebenarnya masih ada beberapa destination yang belum dikunjungi:
1.  Tempat penangkaran burung-burung
      letaknya tak jauh dari Resort Bama, namun lagi-lagi karena waktu Sholat Jumat, kami tak sempat mengunjungi tempat ini. Saran dari mas Ferdy dkk, ke tempat ini pada pagi hari dimana kita bisa melihat macam-macam burung.
2. Snorkeling dan Canoeing di Pantai Bama
    Nyeselnya gak tanggung-tanggung karena melewatkan 2 hal ini. Karena waktu yang singkat, aku hanya sempat menyusuri pantai di pagi hari. Rencana Canoeing gagal karena waktu dan ditambah hari sudah siang. FYI, biaya penyewaan Cano Rp 25000/ jam, tapi jika sedang sepi boleh sepuasnya. Di resort Bama juga menyediakan penyewaan alat-alat snorkeling, namun untuk snorkeling harus ditemani oleh petugas yang tak lain adalah mas Ferdy.

Selesai mandi dan berkemas, kami pun kembali menuju Gerbang pintu masuk TN Baluran dengan menggunakan ojek motor. Biaya Ojek motor ini antara Rp 40.000-50.000/ motor dan bisa dibilang murah mengingat jarak tempuh dan kondisi jalanan. Dan aku merasa beruntung mendapat sopir ojek mas Teguh yang selama perjalanan banyak menceritakan kondisi Baluran dan tak lupa cerita-cerita mistisnya, hehehe.

Sesampai di pintu masuk/ gerbang, kami pun berpamitan dengan bapak-bapak di pos penjagaan dan administrasi terutama kepada Pak Tri sang pengurus homestay :)
Sungguh, perjalanan singkat yang mengesankan, dan tak menolak jika diajak kembali :)

Dan perjalanan kami lanjutkan, what is the next? Kawah Ijen menunggu kami....


to be continued :D


Monday, 19 May 2014

Backpack to Situs Gunung Padang, Cianjur

Nah, walau sudah sekitar sebulan yang lalu, tapi mungkin cerita singkat ini bisa jadi referensi (buat yang baca) jika ada rencana untuk nge-trip ke Situs Gunung Padang.

Situs Megalitikum Gunung Padang diperkirakan oleh para ahli purbakala berasal dari masa sekitar 7800-5500 sebelum masehi atau lebih tua dibandingkan usia Piramida Mesir.
Situs yang masih berupa tumpukan bebatuan yang dibentuk senada itu terletak di Dusun Gunung Padang, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat
Berawal dari rasa penasaran yang sangat apalagi ditambah berita soal kunjungan Presiden ke situs ini, akhirnya aku dan Anzas (partner hidup yang kadang tak terduga imajinasinya) memutuskan untuk nge-trip ke salah satu situs bersejarah ini. Setelah minggu sebelumnya gagal (sudah sampai di Bogor), akhir bulan Maret 2014 kami menempuh perjalanan cukup jauh dan "lama" karena macetnya hanya untuk melunasi keingintahuan kami.

Dimulai dari perjalanan dari Depok, kami memilih commuter line untuk mencapai Bogor. Dari stasiun Bogor, kami menuju ke Terminal Baranangsiang dengan angkot 03 warna hijau arah terminal. Dari terminal, ada beberapa moda transportasi yang bisa dipilih untuk menuju Cianjur, salah satunya adalah mobil "omprengan" putih no. L300. 
Ketika memilih mobil ini, please, jangan terlalu berekspekstasi bahwa kita akan mendapatkan perjalanan yang nyaman dan tenang. hahahhaha. Yap, mobil ini cukup banyak peminatnya, karena memang mobil ini yang mungkin bisa "nyelip-nyelip" sampai cari jalan alternatif yang entah darimana si sopir tahu. Dengan kata lain, mobil ini banyak dipilih karena akan lebih cepat sampai dibanding dengan bus. walau demikian, aku apalagi Anzas tidak ingin mengulang untuk kedua kali naik mobil ini. Bagaimana tidak, dengan kondisi yang sangat dipaksakan alias jumlah penumpangnya melebihi kuota, mobil melaju dengan kencangnya. Sempat bingung dengan dimana kami harus turun, akhirnya kami lega setelah mengetahui ada seorang ibu dengan anaknya yang masih balita memiliki tujuan yang sama. Oiya, tarif mobil L300 berkisar Rp20.000-Rp 30.000 tergantung "season" broooh.


 
begini kira-kira wujud "mobil" L300 

Setelah kira-kira 5 jam menempuh perjalanan yang ajegile, akhirnya sesuai petunjuk si ibu, kami turun di perempatan (aih aku lupa namanya, namun akan diturunkan disitu kalo dari awal bilang ke pak sopir kita mau ke Warungkondang). Perempatan ini ditandai dengan tugu di tengah jalan. Dari situ, kami sambung perjalanan kami dengan naik angkot no.43 ke arah Warung Kondang, tarifnya Rp 2500 per orang. Dari warungkondang sambung lagi dengan angkot ke arah Cipanggulan dengan tarif Rp 5000 per orang. perlu dicatat, angkot ini cukup jarang dan hanya beroperasi sampai sekitar pukul 16.30. Dari Cipanggulan, perjalanan belum selesai kawan, kita masih perlu naik ojek dengan tarif Rp30.000-Rp50.000  per orang (tergantung gimana kita ngotot nawar ke abang-abangnya hahhaha). 
Perjalanan dengan ojek ini cukup menyenangkan dan segar... karena kita akan melewati kebun teh yang membentang luas di kanan kiri, luar biasa Indonesia!
sekitar 40menit perjalanan kami, Alhamdulillah sampailah kami di (semacam) gerbang.. uwooooo
 welcome to Situs Gunung Padang :)

Dari gerbang ini, jangan turun dulu dari ojek, masih cukup lumayan tanjakan yang perlu dilalui untuk sampai di pintu masuk situs. Karena tidak ingin kesulitan mencari ojek lagi, kami meminta akang-akang ojeknya untuk menunggu kami menjelajahi situs. Toh, karena waktu sudah menjelang sore, kami tak akan bisa terlalu lama di situs ini. 
Retribusi masuk ke situs gunung Padang ini masih sangat terjangkau, cukup membayar Rp2000 per orang ke Bapak-bapak penjaga yang dengan "gagahnya" memakai pakaian adat Sunda. Kami pun mulai menanjaki batu demi batu yang akan mengantarkan kami ke Situs yang didengung-dengungkan lebih tua dibanding Piramida di Mesir. Dan inilah foto-fotonya.....


sedikit kaget namun kemudian terbiasa, ketika melihat tempat ini dipakai beberapa orang atau kelompok untuk berdoa/ meminta berkah.... hmmm mungkin karena masih dianggap sebagai tempat keramat dan tetiba maklumlah saya, ini Indonesia, dimana budaya animisme-dinamisme masih cukup kental.
                                                               ini dia salah satu tim yang akan melakukan ritual di Situs ini

Bertemu dengan salah satu penjaga situs ini, akhirnya beberapa informasi "mulut ke mulut" pun aku dapatkan. sungguh betapa masih banyak yang belum kuketahui tentang negeri ini. 
satu hal yang mengusik aku untuk kemudian bertanya ke Bapak penjaga adalah tulisan ini:


betapa tidak, ini mendukungku sekali (catatan: aku adalah manusia aneh yang tidak doyan nasi :D).
Sudah berpikiran jauh kemana-mana, ternyata larangan makan nasi ini lebih ke alasan untuk menjaga kebersihan situs. Logikanya, ini Indonesia, warganya terkadang masih "amburadul" untuk membuang sampah pada tempatnya, dan jika sampah itu nasi, akan "memanggil" hewan-hewan liar termasuk anjing untuk datang ke situs. Begitu penjelasan bapak penjaga :)

Setelah puas memotret objek-objek yang kami anggap penting untuk diabadikan, aku dan Anzas memutuskan untuk turun alias pulang. Oiya, bagi yang ingin ngopi-ngopi atau sekedar makan popm*e, ada beberapa pedagang yang mangkal di situs ini. Jadi bagi yang lupa bawa bekal, tak perlu khawatir ;)

Perjalanan pulang, kami mampir sebentar ke sebuah stasiun, Lampegan, stasiun dengan terowongannya yang bersejarah. Nah, ini yang sebelumnya tidak kami ketahui, ternyata menuju Situs Gunung Padang ini dapat dijangkau dengan menggunakan Kereta tujuan Cianjur (Bogor-Sukabumi-Cianjur). Dan tujuan kami ke stasiun ini membawa harapan akan ada kereta yang membawa kami kembali ke Bogor. hehehhe dan ternyata tidak... yang tersisa hanya tiket jurusan sukabumi dan itupun malam hari baru sampai di Lampegan.. sedikit kecewa, namun tak apa karena kami mendapatkan kesempatan untuk mengabadikan terowongan Lampegan 


setelah berfoto-foto, kami lanjutkan perjalanan turun, tentunya dengan melewati segarnya udara perkebunan teh... hmmmm. Namun kami mulai kebingungan setelah sampai di pos ojek dan ternyata tak ada lagi angkot yang beroperasi. Setelah tawar menawar dengan harga "bersahabat", akhirnya kami memutuskan untuk kembali naik ojek sampai di terminal/ pos pemberhentian bis terdekat. Dengan membayar Rp25.000 per orang, kami sampai di pos pemberhentian bis yang akan membawa kami kembali ke Jakarta.

Setelah menunggu lumayan lama dan menghabiskan beberapa biji gorengan di warung makan, aku dan Anzas akhirnya kembali ke Jakarta dengan bis jurusan Cianjur-Kampung Rambutan. Tarif bis AC ini tertulis Rp22.000 bahkan ditulis pula di kaca bis ini, apabila ada tarif yang dinaikkan, bisa menghubungi no. hp tertera (HP pemilik bus). Ya, kenapa hal ini aku ceritakan, karena kami diminta membayar Rp27.000 per orang dengan alasan melewati jalur non Ciawi agar lebih cepat. Hmmmm yasudah, aku tak ingin menanyakan lebih lanjut karena mata sudah berat dan minta ditidurkan. hahahha
Dan sekitar pukul 22.30, sampailah kami di kampung Rambutan, perjalanan yang kemudian dilanjutkan menuju Depok, ke rumah...

so guys, buat kalian yang ingin "One Day Trip to Situs Gunung Padang" berikut alternatif transportasi dan rincian biayanya:
1. Perjalanan Darat dengan mobil omprengan L300
   Stasiun Bogor > Naik angkot jurusan Baranangsiang (@Rp3000) > mobil omprengan L300 (Rp 20.000-Rp30.000) > Angkot 43 ke Warungkondang (@Rp2500) > Angkot ke pos Ojek (@Rp 5000) > Ojek (@Rp30.000-Rp50.000) > Retribusi masuk Situs Gunung Padang (@Rp 2000)

2. Dengan Kereta
Stasiun Bogor > kereta ke Sukabumi (Rp 50.000-eksekutif / Rp 20.000-ekonomi) > kereta ke Cianjur (Rp 20.000-eksekutif / Rp 10.000-ekonomi) > turun di St. Lampegan > Ojek (@Rp20.000-Rp30.000) > Retribusi masuk Situs Gunung Padang (@Rp 2000)

Okay, semoga bermanfaat kawans, and see you on the next trip :)