Tuesday, 24 June 2014

Getting Lost in Baluran National Park & Ijen Crater part 2

Nah, let me continue the story about this, yes this, Ijen Crater...

Setelah berpamitan dan mendapatkan info tentang transportasi yang bisa kami pilih (hanya satu ini, jadi ya gak bisa milih sebenernya :D), kami pun segera menunggu bis kecil yang dimaksud. Bis ini akan membawa kami menuju Cungking, sebuah tempat yang saat itu  tak terbayangkan di benakku. Bis kecil dengan banyak peminat karena memang jarang dan mungkin satu-satunya yang menuju Cungking tanpa berhenti di Pelabuhan Ketapang (pelabuhan penghubung Banyuwangi dan Bali). Tarif bis dari Gerbang Baluran sampai di Cungking ini relatif murah yaitu Rp 10.000/ orang,
Walaupun sesak, namun bis ini lumayan nyaman apalagi Bapak sopir bus cukup sabar menanggapi pertanyaan-pertanyaanku seputar wisata alam di Banyuwangi (thanks Pak, gara-gara info Bapak, aku jadi mupeng ingin ke red Island, haha -next trip!)

Sampai  di Cungking yang tak lain adalah sebuah perempatan jalan (ow ow) kami pun menghubungi nomor Mas Vian, teman mas Ferdy yang memiliki jasa penyewaan Jeep ke kawah Ijen. Sembari beristirahat dan menunggu Mas Vian, kami memutuskan untuk makan siang di warung sederhana yang menyajikan bakso dan nasi rames plus jeruk hangat dengan harga yang Subhanallah, murah man!! Sebagai informasi, biaya –biaya yang aku tulis di cerita ini belum termasuk biaya makan ya. Dan, berhubung aku dan Anzas bukan type orang yang mau berhemat untuk urusan makan, yah, begitulah, budget kami justru besar untuk porsi konsumsi. hehehhe
Tak lama kemudian mas Vian beserta sopir Jeep (Pak Naryo) datang. Setelah sepakat dengan harga sewa jeep beserta rencana perjalanan Ke Kawah Ijen, aku dan Anzas pun diantar ke salah satu hotel di kota Banyuwangi Oiya, harga Sewa Jeep ini Rp 500.000 dengan rute: penginapan > Kawah Ijen > penginapan/ stasiun jika akan melanjutkan perjalanan. Jeep ini muat untuk 5-6 orang, jadi makin banyak yang kawan, akan makin murah karena bisa sharing biaya J

Sebenarnya kami tidak berencana menginap, namun dengan alasan menyiapkan tenaga (alias butuh tidur sebelum pendakian kecil) dan juga bersih-bersih, kami pun menginap sejenak di Hotel (aku lupa namanya euy) untuk istirahat sejenak. Harga kamar di Hotel yang terletak di kota Banyuwangi, tak jauh GOR Banyuwangi, ini berkisar antara Rp 100.000 (2 bed sederhana) - Rp 350.000an.
Setelah re-packing barang-barang untuk sekedar merapikan, sholat dan bersih-bersih, aku dan Anzas menyempatkan diri jalan-jalan keluar hotel, sepi bo!!! walau demikian, atas saran seorang teman Anzas yang asli Banyuwangi, kami mencicipi kuliner bebek bakar yang lumayan enak di dekat GOR.

Kenyang, kami kembali ke hotel untuk tidur sejenak. Dan benar sesuai janji, Sabtu 31 Mei 2014 sekitar pukul 01.30, Pak Naryo menjemput kami. Dengan mata masih setengah melek, kami pun menembus dinginnya udara malam Banyuwangi dan sepinya jalanan. Sepanjang perjalanan, Pak Naryo bercerita tentang pengalaman beliau menjadi sopir travel baik di Banyuwangi maupun di Bali. Menarik, dan tak kalah menarik lagi adalah cerita tentang Kawah Ijen beserta peraturan-peraturan tak tertulisnya, hehehe. 1 jam sudah kami melewati hutan-hutan dan jalanan sepi, sampailah kami di Paltuding, Basecamp sekaligus tempat dimana mobil-mobil harus menurunkan penumpangnya. Di Paltuding kami harus lapor dan membayar biaya administrasi sebesar Rp 2000/orang dan Rp 3000/ kamera! wow, murah sekali kawan! ahahahha.

Setelah pukul 03.00, pendakian pun dimulai. Aku dan Anzas bergabung dengan puluhan pendaki lainnya. Udara yang sebelumnya dingin menusuk tulang, kelamaan berangsur menghangat seiring dengan hangatnya tubuh karena berjalan dan mendaki. Sebenarnya ada 2 pilihan waktu untuk mendaki, yaitu pagi hari sampai dengan pukul 15.00 dan dini hari dimulai pukul 03.00. Peraturan ini berlaku setelah Ijen sempat berstatus Siaga 3, sehingga waktu itu pendakian ke Kawah Ijen dilarang. Dan kini setelah keadaan berangsur normal, kawan Ijen dibuka kembali namun tetap dengan batasan waktu.
Butuh waktu sekitar 1-1,5 jam untuk sampai di bibir kawah dimana kita sudah bisa menyaksikan Blue Fire. Namun buat aku dan Anzas, sangat tidak afdhol jika tidak sekalian turun melihat lebih dekat fenomena alam ini. Butuh waktu lumayan lama, sekitar ~30 menit untuk menuruni tebing bebatuan (termasuk mencari jalan karena suasana yang masih gelap). Dan ingat, hati-hati, jalanannya agak ngeri broh, jadi gunakan penerangan seoptimal mungkin!

Dan... Subhanallah, dengan jarak dekat kami melihat "Blue Fire", fenomena alam yang bagiku masih sulit dicerna

Karena menyadari, entah apakah kami bisa kesini lagi, kami pun menyaksikan (tentunya sambil poto-poto :p) blue fire sampai api benar-benar habis dan hanya menyisakan asap putih. Karena itu, kami melewatkan sunrise di puncak kawah, tapi tak mengapa sunrise bisa dimana saja hehehhe (menghibur diri sih sebenarnya).



Karena (lagi-lagi) kami harus mengejar kereta untuk kembali ke Surabaya, kami pun memutuskan untuk kembali ke Patulding setelah puas menikmati keindahan alam yang sungguh luar biasa. Di sepanjang jalan inilah, kami banyak bertemu bapak-bapak penambang Belerang yang dengan nafas terengahnya, mencoba membawa belerang seberat 60-120 kg di pundaknya. Ya Allah, miris, dan tak tega rasanya :(, bayangkan tanpa APD (Alat pelindung Diri) seperti masker, mereka mengambil Belerang dari kawah ijen. Naik turun bukit dengan membawa beban seberat itu dan tahukah kalian, Belerang yang mereka bawa dengan taruhan nyawa (menurutku), hanya dihargai Rp800/ kg. Masya Allah.... Tak heran, jika cerita Kawah ijen dan para penambangnya sampai diberitakan di TV luar negeri salah satunya di Jerman (berdasarkan cerita teman SMA yang ada di Jerman).
Dan untuk teman-teman yang akan kesana, bawalah uang sekedar goceng atau cemban, untuk membeli souvenir yang dijual oleh bapak-bapak penambang. Souvenir ini  berupa belerang yang dibentuk seperti bunga, penyu, dll.

Sesampai kembali di Patulding, kami langsung sholat subuh (telat), bersih-bersih dan langsung meneruskan perjalanan ke Stasiun Karang asem (1 stasiun setelah Banyuwangi Baru yang paling dekat dengan Patulding). Kami memutuskan untuk naik kereta dari Banyuwangi ke Surabaya untk menghindari kemacetan. Perjalanan yang memakan waktu ~6 jam ini tak akan membosankan, karena di sepanjang jalan kita akan disuguhi pemandangan alam pedesaan yang sungguh indah (hijau royo-royo :). Oiya, biaya tiket kereta untuk kelas bisnis berkisar antara Rp100.000-160.000/ orang dan eksekutif sekitar Rp150.000-Rp200.000an.

Sampai di Surabaya Gubeng, kami segera sholat dan membeli bekal persiapan untuk menuju ke Bandung. Perjalanan yang cukup lama (dari ujung ke ujung jawa hahaha), namun lumayan sekalian bisa jalan-jalan sebentar di Bandung. Oiya, tarif kereta dari Surabaya ke Bandung cukup bervariasi. Dan kebetulan kami mendapat tiket kereta Api Mutiara selatan dengan harga berkisar pada Rp 230.000-an/orang.


Esok paginya di Bandung, setelah perjalanan hampir 13 jam, kami menyempatkan sebentar berjalan-jalan di kota "kreatif" ini sekalian mencari oleh-oleh (karena di Banyuwangi selain tak tahu tempat oleh-oleh, kami juga diburu oleh waktu #yaelah). Menjelang siang, kami putuskan kembali ke Jakarta via Bus Primajasa Eksekutif Jurusan Bandung-Lebak Bulus dengan tarif Rp 60.000/ orang. Bus nyaman yang mengantarkan kami kembali ke penatnya Ibukota. Yap, welcome back to reality and say hello to Jakarta :D




Note:
-  Tons of thanks untuk semua pihak yang membantu perjalanan singkat ini, termasuk bude di Kebon Jeruk yang menyiapkan makan siang lezat untuk kami yang kelaparan setelah sampai Jakarta hehehe :D
- Untuk menghindari complain Anzas tentang moda transportasi, maka kemungkinan besar sie Transportasi untuk trip selanjutnya adalah Anzas. Yah, siap-siap naik pesawat maksudnya ahahaha :D 

Rincian biaya trip ala nurul bisa dihitung sendiri ya ;)
see you on the next a little Adventure!

No comments:

Post a Comment