Akhir bulan Mei 2014 dengan segala warna warni kalendernya
pun datang... yap, kalender dengan warna tanggal yang berselang seling hitam
dan merah merupakan waktu yang pas untuk sejenak meninggalkan kantor dan
kehidupan Jakarta yang sesak dan makin sesak...
Setelah sekian lama merencanakan perjalanan ini, bertanya ke beberapa teman kantor yang konon pernah kesana dan tentunya riset kecil-kecilan dengan browsing sana sini, akhirnya kubuat plan trip dengan mantap setengah matang. Haha, kenapa kubilang setengah matang, karena tempat yang sudah fix untuk dikunjungi adalah Baluran dan selebihnya tergantung kondisi dan waktu yang masih tersedia. Dan seperti biasa, partner hidupku yang ganteng itu menyerahkan semua rencana ke aku (hihihihi, no complaint ya Zas!)
Dengan tiket kereta PP di tangan, Jakarta-Sby dan Sby-Bandung (karena tak ada lagi tiket Sby-Jakarta), dan pengajuan cuti di-approve, hari Rabu 28 Mei 2014, aku berangkat ke kantor dengan membawa serta segala peralatan adventure-ku. 1 ransel dan 1 tas berisi kamera kutenteng dengan bahagia hehehe. Setelah menghabiskan setengah hari berada di kantor dengan nitip ini itu (kerjaan_red), aku pun siap-siap ngacir ke stasiun (cuti 1/2 hari :D). Aku dan Anzas janjian untuk bertemu langsung di Stasiun Ps. Senen agar lebih efektif dibanding harus balik ke rumah mengingat dia juga ada pekerjaan.
Banyak pilihan kereta yang bisa dipilih, namun harus diperhatikan untuk memesan tiket kereta jauh-jauh hari apalagi saat liburan. Karena semangat yang besar untuk "memperkenalkan" bagaimana nge-trip ala Backpacker dengan biaya minimal, aku membeli tiket kereta ekonomi Kertajaya dengan harga @Rp 50000! ahahhaha masih kebayang muka anzas ketika tahu kami akan naik kereta ekonomi sampai Surabaya :D Maka tak heran, ketika dia mulai complaint, karena ya... dia tak biasa (padahal aku juga gak biasa :D). Namun Alhamdulillah, kami mendapat bonus 2 slot tempat duduk, karena kebetulan tempat duduk di sebelah kami kosong. Kondisi kereta ekonomi saat ini yang relatif jauh lebih nyaman, pun membuat Anzas tak complaint lagi selama perjalanan (mission success). Di kereta ini, kami bertemu beberapa kelompok backpacker lain yang entahpunya tujuan yang sama atau tidak dengan kami. Dan begitulah, kereta melaju cepat, membawa kami sampai di stasiun Surabaya Turi setelah perjalanan sekitar 12 jam.
Sekitar pukul 03.45 kami sampai di Stasiun Surabaya Turi. Stasiun ini bukan merupakan stasiun utama di Surabaya, namun di stasiun ini kami bisa melihat commuter line ala Surabaya yang jujur baru saat itu aku tahu. ahahhaha
Setelah sholat dan bersih-bersih sekenanya (karena ternyata masjid di dekat stasiun tidak menyediakan "fasilitas" kamar mandi untuk para traveler), kami melangkah dengan semangat ke warung Soto, hehehe, iya, Anzas harus makan dulu sebelum beraktivitas :D. Kenyang, kami meneruskan perjalanan dengan naik bus menuju ke terminal Bungurasih (tiket Rp5000/orang).Kkarena pagi, jalanan masih cukup lengang sehingga kami bisa menikmati jalanan Surabaya yang kini (wow) rindang dengan taman-taman hijau di tengah jalanan. Sungguh luar biasa bu Risma! Sejenak tertegun ketika melihat nama jalan yang sama dengan nama sebuah jalan di Jogja: Jalan Pasar Kembang! aha, hanya berdoa semoga yang disini positive. Di sepanjang jalan pun aku melihat spanduk-spanduk yang mendukung penutupan Dolly. Hmmm lagi-lagi, semangat bu Risma!
Sekitar satu jam perjalanan, sampailah kami di terminal Bungurasih dimana kami harus berganti bis yang menuju ke terminal Probolinggo. Tarif bis dari Bungurasih ke Probolinggo @Rp 10.000/orang dengan waktu tempuh sekitar 1 jam.
Sesampai di terminal Probolinggo, kami bak dua orang yang diperebutkan, banyak macam bis yang akan menawarkan perjalanan untuk menuju Baluran, jangan cepat kena rayuan.. hahahha banding-bandingkan harga dan fasilitas yang didapatkan dan ingat cari bis Jurusan Banyuwangi yang akan lewat Situbondo (karena ada bis jurusan Banyuwangi/ Bali namun tidak melewati gerbang Taman Nasional Baluran). Setelah membandingkan, akhirnya kami memilih sebuah bis AKAS dengan tarif @Rp 32.000/orang.
Sepanjang perjalanan dari Probolinggo sampai ke Situbondo, kami disuguhi berbagai keindahan alam. Bayangkan, kanan pegunungan, kiri pantai dan lautan... wow, keren pake banget pokoknya! haha. setelah sekitar 3 jam perjalanan, di luar rencana, kami turun di depan SMP N 1 Situbondo. Salah seorang manager kantor yang berasal dari Situbondo menawarkan bantuan untuk mengantar kami langsung ke Baluran. Aku sudah menolak dengan halus karena tak ingin merepotkan, namun si Ibu Manager ini bersikukuh dengan alasan supaya anaknya juga bisa melihat Baluran. Okay, dan dijemputlah kami oleh adik si Ibu yang akhirnya membawa kami istirahat sejenak (ISHOMA) di rumahnya (note: yang sedang liburan ke Situbondo itu suami dan anak tertua si Ibu Manager, si Ibunya sendiri "jaga kandang" di kantor, hehehe).
Selesai makan dan sholat, kami berpamitan dan diantar menuju Baluran oleh suami dan anak si ibu. Sopir keluarga Ibu ini bercerita banyak tentang Situbondo dan segala pernak perniknya kepada kami. Dari Pondok pesantren dengan para kyainya sampai dengan urusan politik. hehehe, satu kesanku: Situbondo adalah kota yang relatif sepi dan tenang dan mungkin cocok untuk para pensiunan :)
Setelah sekitar hampir 2 jam, dengan pemandangan hutan beserta monyet-monyet yang mulai turun ke jalan, sampailah kami di Gerbang pintu masuk Taman Nasional Baluran. Disini kami harus lapor tentang maksud dan tujuan kedatangan.
Dari gerbang ini, kami kemudian menuju bagian administrasi. Biaya masuk per orang adalah Rp 7500 (murmer kan :D) dan 1 mobil Rp15000. Dengan alasan bahwa 3 orang lainnya hanya mengantar, maka kami hanya diminta membayar biaya masuk untuk 2 orang plus biaya mobil. Oiya, untuk yang tidak membawa kendaraan sendiri, disini ada ojek yang bisa mengantar dari gerbang sampai di Home stay Bekol atau Bama. Tarifnya lumayan Rp 40.000 - 50.000/motor untuk perjalanan sekitar 40-60 menit. Mau jalan kaki? boleh aja, tapi siap-siap gempor karena jaraknya cukup jauh hehehhe.
Dan malam ini aku dan anzas akan menginap di Homestay Bama, homestay yang berada di pinggiran pantai Bama. Awalnya aku prefer menginap di Bekol, jejeran homestay yang berhadapan langsung dengan Savannah Bekol sehingga bisa mengintip aktivitas binatang di savannah saat malam hari. Namun, karena masuk kategori pemesanan dadakan (H-5 keberangkatan), homestay di Bekol full booked (maklum liburan) dan kami memutuskan untuk stay di Bama dengan tarif Rp 250.000/ malam.
Sekitar pukul 16.00 sampailah kami di Bama. Sore itu, pantai yang masih cukup virgin ini masih ramai dengan pengunjung, baik mereka yang hanya duduk-duduk menikmati sore maupun mereka yang selesai snorkeling dan diving. Wonderful, monyetnya banyak banget booo! Tempat tinggal monyet-monyet ini terbagi menjadi beberapa wilayah dan mereka tak segan-segan merebut makanan pengunjung.
Setelah "Say bye bye" ke pengantar kami yang baik, kami pun bergegas menuju homestay. hmmmm, tak ada gordynnya, dan sepertinya kami akan sepi di tempat ini, kenapa? karena selain tak ada listrik (listrik hanya tersedia mulai pukul 18.00 - 23.00), sinyalpun sama sekali menghilang. :D itulah kenapa, malam harinya kami memutuskan untuk tidur di resort Bama, tempat tinggal para penjaga hutan ini. Oiya, di Baluran pukul 17.00 sudah cukup gelap dan bukan hal bijkasana jika anda ingin jalan-jalan di sore hari menjelang malam mengingat tak ada listrik dan kendaraan yang lewat.
Di resort yang tak jauh dari homestay, kami disambut hangat oleh mas Ferdy (yang ternyata orang bogor, Alumni IPB), Mas teguh dan Pak Didi . Pembicaraan seputar Baluran pun mengalir saat kami ngopi bareng sebelum tidur.
Karena tak ingin melewatkan sunrise, setelah sholat subuh aku dan Anzas langsung meluncur ke pantai, menunggu si kuning bulat memancar.. dan bener-bener merasa ini pantai pribadi - tak ada satupun orang yang disana kecuali kami. Setelah menunggu beberapa menit muncullah sang mentari dengan semburat merahnya, subhanallah!
hanya bisa berdecak kagum dan entah apa rasanya, bahagia! hahaha...
Dan baru beberapa menit kemudian, orang-orang mulai berdatangan (kemungkinan mereka yang menginap di Bekol).
Setelah puas melihat pantai dan sunrisenya, aku dan Anzas memutuskan untuk menelusuri jalanan menuju Savannah Bama dan Bekol. Di sepanjang jalan yang rindang, kami disuguhi bermacam-macam vegetasi dan beberapa binatang yang sedang keluar, monyet, rusa, dan banteng atau entah itu kerbau jawa.
Dari Savannah Bama, kami bergerak ke Savannah Bekol, dimana konon tiap pagi atau malamnya banyak binatang turun ke savannah ini untuk minum. Jadi tak heran, ketika kami melihat ada beberapa sumber air di Savannah ini.
setelah puas menelusuri Savannah, aku dan Anzas mengakhiri perjalanan dengan naik ke Gardu pandang dan begitu kagum ketika melihat pantai, gunung, dan hutan dalam waktu yang bersamaan. Subhanallah! What a beautiful Indonesia!
Puas melihat keindahan alam Baluran dari gardu pandang, kami kemudian kembali ke Bama dengan mencarter ojek motor. Selain karena hari mulai panas, kami juga harus mengejar waktu mengingat hari itu adalah Jumat (Anzas tak mau sampai ketinggalan Sholat Jumat, Good Man :) ).
Biaya untuk naik ojek dari Bekol ke Bama Rp 15000/ motor.
Sesampai di Bama, kami pun langsung menuju Mangrove conservation yang terletak sekitar 50 m dari resort Bama. Selain sebagai pembudidayaan Mangrove yang berfungsi menahan ombak air laut/ mencegah abrasi, tempat ini juga berfungsi sebagai tempat tinggal sebagain kawanan monyet. Jadi tak heran, ketika kami menjelajah tempat ini, banyak monyet bergelantungan.
Puas menjelajah konservasi Mangrove, kami kembali ke homestay untuk bersiap2 keluar dari TN Baluran. Sebenarnya masih ada beberapa destination yang belum dikunjungi:
1. Tempat penangkaran burung-burung
letaknya tak jauh dari Resort Bama, namun lagi-lagi karena waktu Sholat Jumat, kami tak sempat mengunjungi tempat ini. Saran dari mas Ferdy dkk, ke tempat ini pada pagi hari dimana kita bisa melihat macam-macam burung.
2. Snorkeling dan Canoeing di Pantai Bama
Nyeselnya gak tanggung-tanggung karena melewatkan 2 hal ini. Karena waktu yang singkat, aku hanya sempat menyusuri pantai di pagi hari. Rencana Canoeing gagal karena waktu dan ditambah hari sudah siang. FYI, biaya penyewaan Cano Rp 25000/ jam, tapi jika sedang sepi boleh sepuasnya. Di resort Bama juga menyediakan penyewaan alat-alat snorkeling, namun untuk snorkeling harus ditemani oleh petugas yang tak lain adalah mas Ferdy.
Selesai mandi dan berkemas, kami pun kembali menuju Gerbang pintu masuk TN Baluran dengan menggunakan ojek motor. Biaya Ojek motor ini antara Rp 40.000-50.000/ motor dan bisa dibilang murah mengingat jarak tempuh dan kondisi jalanan. Dan aku merasa beruntung mendapat sopir ojek mas Teguh yang selama perjalanan banyak menceritakan kondisi Baluran dan tak lupa cerita-cerita mistisnya, hehehe.
Sesampai di pintu masuk/ gerbang, kami pun berpamitan dengan bapak-bapak di pos penjagaan dan administrasi terutama kepada Pak Tri sang pengurus homestay :)
Sungguh, perjalanan singkat yang mengesankan, dan tak menolak jika diajak kembali :)
Dan perjalanan kami lanjutkan, what is the next? Kawah Ijen menunggu kami....
to be continued :D
Setelah sekian lama merencanakan perjalanan ini, bertanya ke beberapa teman kantor yang konon pernah kesana dan tentunya riset kecil-kecilan dengan browsing sana sini, akhirnya kubuat plan trip dengan mantap setengah matang. Haha, kenapa kubilang setengah matang, karena tempat yang sudah fix untuk dikunjungi adalah Baluran dan selebihnya tergantung kondisi dan waktu yang masih tersedia. Dan seperti biasa, partner hidupku yang ganteng itu menyerahkan semua rencana ke aku (hihihihi, no complaint ya Zas!)
Dengan tiket kereta PP di tangan, Jakarta-Sby dan Sby-Bandung (karena tak ada lagi tiket Sby-Jakarta), dan pengajuan cuti di-approve, hari Rabu 28 Mei 2014, aku berangkat ke kantor dengan membawa serta segala peralatan adventure-ku. 1 ransel dan 1 tas berisi kamera kutenteng dengan bahagia hehehe. Setelah menghabiskan setengah hari berada di kantor dengan nitip ini itu (kerjaan_red), aku pun siap-siap ngacir ke stasiun (cuti 1/2 hari :D). Aku dan Anzas janjian untuk bertemu langsung di Stasiun Ps. Senen agar lebih efektif dibanding harus balik ke rumah mengingat dia juga ada pekerjaan.
Banyak pilihan kereta yang bisa dipilih, namun harus diperhatikan untuk memesan tiket kereta jauh-jauh hari apalagi saat liburan. Karena semangat yang besar untuk "memperkenalkan" bagaimana nge-trip ala Backpacker dengan biaya minimal, aku membeli tiket kereta ekonomi Kertajaya dengan harga @Rp 50000! ahahhaha masih kebayang muka anzas ketika tahu kami akan naik kereta ekonomi sampai Surabaya :D Maka tak heran, ketika dia mulai complaint, karena ya... dia tak biasa (padahal aku juga gak biasa :D). Namun Alhamdulillah, kami mendapat bonus 2 slot tempat duduk, karena kebetulan tempat duduk di sebelah kami kosong. Kondisi kereta ekonomi saat ini yang relatif jauh lebih nyaman, pun membuat Anzas tak complaint lagi selama perjalanan (mission success). Di kereta ini, kami bertemu beberapa kelompok backpacker lain yang entahpunya tujuan yang sama atau tidak dengan kami. Dan begitulah, kereta melaju cepat, membawa kami sampai di stasiun Surabaya Turi setelah perjalanan sekitar 12 jam.
Sekitar pukul 03.45 kami sampai di Stasiun Surabaya Turi. Stasiun ini bukan merupakan stasiun utama di Surabaya, namun di stasiun ini kami bisa melihat commuter line ala Surabaya yang jujur baru saat itu aku tahu. ahahhaha
Stasiun Surabaya Turi menjelang subuh
Sekitar satu jam perjalanan, sampailah kami di terminal Bungurasih dimana kami harus berganti bis yang menuju ke terminal Probolinggo. Tarif bis dari Bungurasih ke Probolinggo @Rp 10.000/orang dengan waktu tempuh sekitar 1 jam.
Sesampai di terminal Probolinggo, kami bak dua orang yang diperebutkan, banyak macam bis yang akan menawarkan perjalanan untuk menuju Baluran, jangan cepat kena rayuan.. hahahha banding-bandingkan harga dan fasilitas yang didapatkan dan ingat cari bis Jurusan Banyuwangi yang akan lewat Situbondo (karena ada bis jurusan Banyuwangi/ Bali namun tidak melewati gerbang Taman Nasional Baluran). Setelah membandingkan, akhirnya kami memilih sebuah bis AKAS dengan tarif @Rp 32.000/orang.
Sepanjang perjalanan dari Probolinggo sampai ke Situbondo, kami disuguhi berbagai keindahan alam. Bayangkan, kanan pegunungan, kiri pantai dan lautan... wow, keren pake banget pokoknya! haha. setelah sekitar 3 jam perjalanan, di luar rencana, kami turun di depan SMP N 1 Situbondo. Salah seorang manager kantor yang berasal dari Situbondo menawarkan bantuan untuk mengantar kami langsung ke Baluran. Aku sudah menolak dengan halus karena tak ingin merepotkan, namun si Ibu Manager ini bersikukuh dengan alasan supaya anaknya juga bisa melihat Baluran. Okay, dan dijemputlah kami oleh adik si Ibu yang akhirnya membawa kami istirahat sejenak (ISHOMA) di rumahnya (note: yang sedang liburan ke Situbondo itu suami dan anak tertua si Ibu Manager, si Ibunya sendiri "jaga kandang" di kantor, hehehe).
Selesai makan dan sholat, kami berpamitan dan diantar menuju Baluran oleh suami dan anak si ibu. Sopir keluarga Ibu ini bercerita banyak tentang Situbondo dan segala pernak perniknya kepada kami. Dari Pondok pesantren dengan para kyainya sampai dengan urusan politik. hehehe, satu kesanku: Situbondo adalah kota yang relatif sepi dan tenang dan mungkin cocok untuk para pensiunan :)
Setelah sekitar hampir 2 jam, dengan pemandangan hutan beserta monyet-monyet yang mulai turun ke jalan, sampailah kami di Gerbang pintu masuk Taman Nasional Baluran. Disini kami harus lapor tentang maksud dan tujuan kedatangan.
Dari gerbang ini, kami kemudian menuju bagian administrasi. Biaya masuk per orang adalah Rp 7500 (murmer kan :D) dan 1 mobil Rp15000. Dengan alasan bahwa 3 orang lainnya hanya mengantar, maka kami hanya diminta membayar biaya masuk untuk 2 orang plus biaya mobil. Oiya, untuk yang tidak membawa kendaraan sendiri, disini ada ojek yang bisa mengantar dari gerbang sampai di Home stay Bekol atau Bama. Tarifnya lumayan Rp 40.000 - 50.000/motor untuk perjalanan sekitar 40-60 menit. Mau jalan kaki? boleh aja, tapi siap-siap gempor karena jaraknya cukup jauh hehehhe.
Dan malam ini aku dan anzas akan menginap di Homestay Bama, homestay yang berada di pinggiran pantai Bama. Awalnya aku prefer menginap di Bekol, jejeran homestay yang berhadapan langsung dengan Savannah Bekol sehingga bisa mengintip aktivitas binatang di savannah saat malam hari. Namun, karena masuk kategori pemesanan dadakan (H-5 keberangkatan), homestay di Bekol full booked (maklum liburan) dan kami memutuskan untuk stay di Bama dengan tarif Rp 250.000/ malam.
Sekitar pukul 16.00 sampailah kami di Bama. Sore itu, pantai yang masih cukup virgin ini masih ramai dengan pengunjung, baik mereka yang hanya duduk-duduk menikmati sore maupun mereka yang selesai snorkeling dan diving. Wonderful, monyetnya banyak banget booo! Tempat tinggal monyet-monyet ini terbagi menjadi beberapa wilayah dan mereka tak segan-segan merebut makanan pengunjung.
Setelah "Say bye bye" ke pengantar kami yang baik, kami pun bergegas menuju homestay. hmmmm, tak ada gordynnya, dan sepertinya kami akan sepi di tempat ini, kenapa? karena selain tak ada listrik (listrik hanya tersedia mulai pukul 18.00 - 23.00), sinyalpun sama sekali menghilang. :D itulah kenapa, malam harinya kami memutuskan untuk tidur di resort Bama, tempat tinggal para penjaga hutan ini. Oiya, di Baluran pukul 17.00 sudah cukup gelap dan bukan hal bijkasana jika anda ingin jalan-jalan di sore hari menjelang malam mengingat tak ada listrik dan kendaraan yang lewat.
Di resort yang tak jauh dari homestay, kami disambut hangat oleh mas Ferdy (yang ternyata orang bogor, Alumni IPB), Mas teguh dan Pak Didi . Pembicaraan seputar Baluran pun mengalir saat kami ngopi bareng sebelum tidur.
Karena tak ingin melewatkan sunrise, setelah sholat subuh aku dan Anzas langsung meluncur ke pantai, menunggu si kuning bulat memancar.. dan bener-bener merasa ini pantai pribadi - tak ada satupun orang yang disana kecuali kami. Setelah menunggu beberapa menit muncullah sang mentari dengan semburat merahnya, subhanallah!
hanya bisa berdecak kagum dan entah apa rasanya, bahagia! hahaha...
Dan baru beberapa menit kemudian, orang-orang mulai berdatangan (kemungkinan mereka yang menginap di Bekol).
Setelah puas melihat pantai dan sunrisenya, aku dan Anzas memutuskan untuk menelusuri jalanan menuju Savannah Bama dan Bekol. Di sepanjang jalan yang rindang, kami disuguhi bermacam-macam vegetasi dan beberapa binatang yang sedang keluar, monyet, rusa, dan banteng atau entah itu kerbau jawa.
Dari Savannah Bama, kami bergerak ke Savannah Bekol, dimana konon tiap pagi atau malamnya banyak binatang turun ke savannah ini untuk minum. Jadi tak heran, ketika kami melihat ada beberapa sumber air di Savannah ini.
Kepala-kepala kerbau jawa, Banteng dan sapi, could you identified it?
setelah puas menelusuri Savannah, aku dan Anzas mengakhiri perjalanan dengan naik ke Gardu pandang dan begitu kagum ketika melihat pantai, gunung, dan hutan dalam waktu yang bersamaan. Subhanallah! What a beautiful Indonesia!
Puas melihat keindahan alam Baluran dari gardu pandang, kami kemudian kembali ke Bama dengan mencarter ojek motor. Selain karena hari mulai panas, kami juga harus mengejar waktu mengingat hari itu adalah Jumat (Anzas tak mau sampai ketinggalan Sholat Jumat, Good Man :) ).
Biaya untuk naik ojek dari Bekol ke Bama Rp 15000/ motor.
Sesampai di Bama, kami pun langsung menuju Mangrove conservation yang terletak sekitar 50 m dari resort Bama. Selain sebagai pembudidayaan Mangrove yang berfungsi menahan ombak air laut/ mencegah abrasi, tempat ini juga berfungsi sebagai tempat tinggal sebagain kawanan monyet. Jadi tak heran, ketika kami menjelajah tempat ini, banyak monyet bergelantungan.
Puas menjelajah konservasi Mangrove, kami kembali ke homestay untuk bersiap2 keluar dari TN Baluran. Sebenarnya masih ada beberapa destination yang belum dikunjungi:
1. Tempat penangkaran burung-burung
letaknya tak jauh dari Resort Bama, namun lagi-lagi karena waktu Sholat Jumat, kami tak sempat mengunjungi tempat ini. Saran dari mas Ferdy dkk, ke tempat ini pada pagi hari dimana kita bisa melihat macam-macam burung.
2. Snorkeling dan Canoeing di Pantai Bama
Nyeselnya gak tanggung-tanggung karena melewatkan 2 hal ini. Karena waktu yang singkat, aku hanya sempat menyusuri pantai di pagi hari. Rencana Canoeing gagal karena waktu dan ditambah hari sudah siang. FYI, biaya penyewaan Cano Rp 25000/ jam, tapi jika sedang sepi boleh sepuasnya. Di resort Bama juga menyediakan penyewaan alat-alat snorkeling, namun untuk snorkeling harus ditemani oleh petugas yang tak lain adalah mas Ferdy.
Selesai mandi dan berkemas, kami pun kembali menuju Gerbang pintu masuk TN Baluran dengan menggunakan ojek motor. Biaya Ojek motor ini antara Rp 40.000-50.000/ motor dan bisa dibilang murah mengingat jarak tempuh dan kondisi jalanan. Dan aku merasa beruntung mendapat sopir ojek mas Teguh yang selama perjalanan banyak menceritakan kondisi Baluran dan tak lupa cerita-cerita mistisnya, hehehe.
Sesampai di pintu masuk/ gerbang, kami pun berpamitan dengan bapak-bapak di pos penjagaan dan administrasi terutama kepada Pak Tri sang pengurus homestay :)
Sungguh, perjalanan singkat yang mengesankan, dan tak menolak jika diajak kembali :)
Dan perjalanan kami lanjutkan, what is the next? Kawah Ijen menunggu kami....
to be continued :D

No comments:
Post a Comment