Sunday, 20 April 2014

Humanism Part II - Rumah Belajar Titian Ilmu

Pendidikan adalah hak semua warga Negara tak terkecuali anak jalanan. Mereka hidup di jalanan bukan karena keinginan mereka, tapi keadaan sulit yang membelit kehidupan. Bukan ingin menyalahkan pihak siapapun, tapi mari mulai memikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk mereka.
Sekitar 10 tahun yang lalu sebuah “rumah belajar” didirikan untuk membantu anak-anak jalanan di salah satu wilayah “kumuh” Kayu Putih-Jakarta Timur mengenyam pendidikan. Didirikan oleh ibu Nur bersama suaminya, rumah belajar ini diberi nama Titian Ilmu.  Tak mudah awalnya menyadarkan para orang tua untuk mengijinkan anak-anak mereka belajar. Anak-anak yang biasa membantu mereka mencari uang di jalanan, harus absen mengais rejeki di trotoar. Cacian, makian sudah biasa ibu Nur dan suaminya terima. Tapi semuanya membuahkan hasil, lambat laun para orang tua mulai mengijinkan anak-anaknya untuk belajar.
Tak semua anak bisa masuk sekolah formal dengan alasan tidak punya akte kelahiran karena tak ada biaya untuk mengurusnya atau orang tua menikah secara agama. Namun, mereka butuh tempat belajar, butuh buku-buku untuk bahan bacaan. Itulah mengapa bu Nur dan suaminya kemudian berusaha untuk mendapatkan hak persamaan dalam proses belajar yang ditandai dengan adanya Kejar Paket A, B, dan C. Artinya, murid-murid di rumah belajar dapat meneruskan pendidikan dengan menggunakan ijazah dari kejar paket tersebut. 
note:
Berkat usaha bu Nur dibantu beberapa relawan, terlaksanalah acara nikah massal untuk para orang tua yang belum bisa menikah secara resmi sebelumnya. Dengan demikian, anak-anak yang sebelumnya tidak bisa masuk ke sekolah resmi karena kendala akte kelahiran, kini bisa tersenyum bahagia :)

Awal tahun 2013 merupakan saat keprihatinan untuk Rumah Belajar Titian Ilmu. Setelah dihantam banjir di bulan Januari 2013, musibah kembali datang dengan warna yang berbeda. Kebakaran pada bulan Maret 2013 menghanguskan tempat belajar, buku-buku dan Al-Quran yang dipakai mengaji anak-anak di malam hari. 
Dari seorang kawan, tengah tahun sekitar Juni 2013, aku mengenal lebih jauh tentang Rumbel ini. Aku mulai rutin (hampir) setiap minggu aku datang untuk mengajar (berbagai hal) ke anak-anak tersebut. Selalu menyenangkan dan penuh kejutan. Aku mengajari anak-anak ini dari masalah kesehatan sampai ke pengetahuan umum. Dan aku selalu bahagia melihat wajah-wajah polos yang kadang menunjukkan "kenakalannya" itu tersenyum di depanku :)
                                                                                              selepas belajar bersama :)
     
Untuk membantu pemulihan kondisi rumbel, aku berinisiatif membuat "paper" untuk pengumpulan dana. Paper ini aku sebarkan ke beberapa komunitas termasuk ke karyawan di kantorku. Alhamdulillah, respon positif pun datang dari beberapa pihak. Beberapa teman di kantor termasuk Bapak-Ibu senior dengan semangat menyumbang buku-buku (milik anaknya yang sudah tak terpakai), karpet ataupun uang. Respon yang baik pun, aku terima dari beberapa kawan lama, yang bahkan sampai saat ini ada satu orang yang terus menjadi donatur tetap tiap bulan (tons of thanks brader :) )

Saat ramadhan 2013 tiba, aku pun berinisiatif untuk mengadakan acara buka puasa bersama yang dirangkai dengan acara lomba untuk anak-anak. Proposal sederhana yang kubuat alhamdulillah (lagi-lagi) mendapat respon yang sangat positif dari kawan-kawan. Acara lomba mengarang dan mewarnai pun berjalan dengan seru diikuti dengan buka puasa bersama yang sangat meriah. Dan sungguh tak menyangka, kami mendapat  Surprised penampilan Qasidahan dari anak-anak di Rumbel (terharu euy....)
  
Pembenahan demi pembenahan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Jakarta pun berdampak pada rumah belajar. Pertengahan tahun 2013, program normalisasi waduk Ria Rio kembali memaksa rumah belajar untuk “hijrah” ke rumah susun (rusun) yang dijanjikan oleh Pemda. Dan demi mendukung program pemerintah untuk mengembalikan fungsi waduk, warga yang notabene tidak mempunyai hak tertulis atas tanah tempat tinggal selama ini, kini pindah ke salah satu rusun di Penggilingan. 
Walau harus beradaptasi dengan lingkungan baru termasuk sekolah baru, kini anak-anak memiliki ruang bermain yang lebih luas. Mereka pun lebih "sehat" dengan lingkungan yang tak lagi dikepung oleh sampah.
Anak-anak, pendidikan dan lingkungan... pondasi sebuah negara di masa depannya. Dan kepedulian kita tentunya sangat berarti untuk mereka.
tertarik bergabung jadi "relawan" di rumbel ini, you can ask me surely! :') 

If we are about to create peace in the world, we must begin with our children”
–Mahatma Gandhi-

2 comments:

  1. sekarang di Cakung Day, per Oct 2013 kemarin. kalo mau kesana, ayok aja... tinggal arrange waktu.

    ReplyDelete